KOTA YOGYAKARTA - Setelah 25 tahun, Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia kembali digelar di Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah perhelatan yang mempertemukan pelaku seni dan budaya, dari berbagai daerah di tanah air.
Mengusung tema "Gyaning Rasa Mantraning Nusantara" dan slogan "Srawung Karya, Gulawentah Budaya", temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25 digelar 24 September hingga 2 Oktober 2026. kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan, gagasan, karya, dan praktik kebudayaan antardaerah.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi kenduren atau makan bersama di Taman Budaya Yogyakarta. kenduren dilengkapi tumpeng, ingkung ayam, buah-buahan, jajanan pasar, serta beragam makanan tradisional. Prosesi ini menjadi simbol doa dan rasa syukur sekaligus menandai dimulainya perhelatan budaya.
Sekitar 27 gelaran seni dan budaya akan dihadirkan, mulai dari pameran Suluh Sumurup Art Festival, Pojok Kreatif Taman Budaya, konser musik orkestra, hingga karawitan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pameran seni rupa inklusif. pameran ini menampilkan 193 karya dari 131 seniman difabel. Kegiatan melibatkan 13 komunitas, sanggar, dan sekolah dari 14 provinsi, serta didukung enam taman budaya se-Indonesia.
“Dengan ada karawitan, kemudian temu karya itu sendiri dan melukis batik ditanggal 2 Oktober, harapan kami ini menjadi satu atau balomater untuk teman-teman karya taman budaya se-Indonesia. Bagaimana penyelenggaraan dapat berhasil oleh beberapa kegiatan sehingga ini memberikan dampak yang bagus.” ucap Purwiati selaku Kepala UPT Taman Budaya Yogyakarta.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY. Dian Lakshmi Pratiwi, menyebut Temu Karya menjadi ruang untuk mempertukarkan gagasan, karya, dan pengalaman, sekaligus membuka peluang kolaborasi antardaerah.
“Amati, tiru, modifikasi. Kami berharap memang dari Yogyakarta 25 tahun pertama ini kita mampu memberikan dampak yang cukup signifikan tidak hanya mereka datang dan melihat tampilan, tetapi ada sesuatu yang dibawa, sesuatu dipelajari, dan sesuatu yang mudah dipraktikkan.” ucap Dian Lakshmi Pratiwi selaku Kepala Dinas Kebudayaan DIY.
Sementara itu, Kurator pameran, Budi Irawanto, menyebut tema “Maneges’ menegaskan komitmen untuk memperluas ruang yang setara bagi seniman disabilitas dalam peta seni rupa nasional.
“Meneges sendiri berasal dari kata teges atau jelas, manages dalam bahasa jawa itu bermakna berikhtiar untuk menemukan kejelasan diri lewat berbagai laku, yang bisa dikatakan bersifat spiritual. sehingga sampai pada kesadaran penuh tentang diri kita sesungguhnya.” ucap Budi Irawanto selaku Kurator.
Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia ke-25 diharapkan tak sekadar menjadi perhelatan seni, namun juga memperkuat jejaring antar taman budaya, menjadi ruang srawung kebudayaan, merawat keberagaman, serta mendorong karya dan praktik budaya terus berkembang di tengah Masyarakat.
Reporter : AGUNG, RBTV
Penyunting Artikel : Purnasari Nuraini
