YOGYAKARTA – Di tengah ramainya kendaraan bermotor yang melintasi jalanan Yogyakarta, andong masih menjadi salah satu pemandangan yang mudah dikenali, terutama di kawasan wisata. Kendaraan tradisional yang ditarik oleh kuda ini tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Yogyakarta.

Andong merupakan kendaraan beroda empat yang ditarik oleh kuda dan dikendalikan oleh seorang kusir. Salah satu ciri khasnya adalah ukuran roda depan yang lebih kecil dibandingkan roda belakang. Bentuk tersebut membedakan andong dari sejumlah kendaraan tradisional lain, seperti dokar atau delman yang umumnya menggunakan dua roda.

Dalam sejarahnya, keberadaan andong di Yogyakarta berkaitan dengan perkembangan kereta kuda di lingkungan kerajaan. Masyarakat kemudian mengenal kendaraan serupa yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Seiring waktu, andong menjadi salah satu alat transportasi yang digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Pada masa lalu, andong dimanfaatkan untuk mengangkut penumpang maupun membantu masyarakat melakukan perjalanan, termasuk menuju pasar. Keberadaannya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sebelum kendaraan bermotor berkembang seperti sekarang.

Namun, perkembangan transportasi membawa perubahan terhadap fungsi andong. Jika dahulu lebih banyak digunakan untuk menunjang mobilitas masyarakat, kini andong juga dikenal sebagai salah satu daya tarik wisata di Yogyakarta.

Di sejumlah kawasan wisata, pengunjung dapat menemukan andong yang menawarkan pengalaman berkeliling dengan suasana berbeda. Perjalanan menggunakan andong memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menikmati lingkungan sekitar dengan tempo yang lebih santai sambil melihat aktivitas masyarakat di sepanjang jalan.

Daya tarik andong tidak hanya terletak pada bentuk kendaraannya, tetapi juga pada keterampilan kusir dalam mengendalikan kuda serta merawat kendaraan. Pembuatan dan perawatan andong membutuhkan keterampilan tersendiri, sehingga keberadaannya turut berkaitan dengan pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Meski demikian, keberlangsungan andong tetap membutuhkan perhatian. Perubahan fungsi menjadi kendaraan wisata membuat keberadaannya berkaitan dengan perkembangan pariwisata, sementara kesejahteraan kusir dan perawatan kuda juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Andong memperlihatkan bagaimana tradisi dapat bertahan dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan zaman. Kendaraan ini tidak lagi hanya dipandang sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman budaya yang ditawarkan Yogyakarta kepada wisatawan.

Keberadaan andong menjadi pengingat bahwa warisan budaya dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjaga tradisi sekaligus memperhatikan kesejahteraan kusir dan kuda, andong diharapkan tetap menjadi bagian dari wajah Yogyakarta di tengah perkembangan kota modern.

Penulis Artikel: Purnasari Nuraini