YOGYAKARTA - Suhu udara terik yang melanda Kota Yogyakarta di siang hari bukan sekadar memicu rasa tidak nyaman atau gerah. Fenomena paparan sinar matahari ekstrem ini dapat berubah menjadi kondisi darurat medis yang mengancam keselamatan jiwa. Kelelahan akibat panas berlebih atau heat exhaustion menjadi ancaman nyata ketika tubuh seseorang mulai kewalahan mengatur suhu alaminya.

Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan harus mengenali sinyal bahaya yang dikirimkan oleh tubuh. Gejala awal biasanya ditandai dengan rasa haus yang berat, pusing, lemas, mual, hingga kram otot dan keluarnya keringat berlebihan. Jika tanda-tanda tersebut diabaikan, kondisi dapat memburuk menjadi heatstroke, sebuah tingkat keparahan tertinggi ketika suhu tubuh meningkat sangat drastis dalam waktu singkat.

Pada tahap heatstroke, penderita dapat mengalami disorientasi atau bingung, kejang, bicara kacau, bahkan kehilangan kesadaran secara mendadak. Oleh karena itu, langkah pertolongan pertama harus segera dilakukan; hentikan seluruh aktivitas fisik, pindahkan penderita ke tempat yang teduh atau ruangan ber-AC; serta longgarkan pakaian yang ketat. Selanjutnya, mendinginkan tubuh dengan kompres dingin di area leher atau ketiak sangat disarankan guna menurunkan suhu tubuh.

Upaya pencegahan juga wajib dilakukan sejak dini oleh warga lokal maupun wisatawan. Memenuhi kebutuhan cairan dengan rutin minum air putih tanpa menunggu haus, mengenakan pakaian ringan berbahan serat alami, serta membatasi aktivitas fisik di bawah terik matahari terutama antara pukul 11.00 hingga 15.00 merupakan langkah krusial. Jika penderita menunjukkan gejala tidak responsif, pertolongan medis darurat di unit gawat darurat harus segera dihubungi demi mencegah risiko fatal.

 

Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani