YOGYAKARTA - Fenomena cuaca ekstrem akibat musim kemarau panjang yang melanda berbagai kawasan perkotaan kini memicu keresahan tersendiri di kalangan Generasi Z. Suhu terik yang menyengat di siang hari tidak hanya mengganggu kenyamanan fisik; kondisi ini juga berdampak signifikan terhadap dinamika emosional serta pola aktivitas harian anak muda. Fenomena kecemasan akibat iklim atau eco-anxiety pun makin marak diperbincangkan di media sosial.

Suhu udara yang melonjak tinggi membatasi ruang gerak anak muda untuk beraktivitas di luar ruangan. Kebiasaan berkumpul di area outdoor, berolahraga sore, hingga menghadiri festival musik kini sering terhalang oleh rasa gerah dan risiko gangguan kesehatan. Selain itu, masalah turunan seperti polusi udara yang meningkat serta krisis air bersih di beberapa daerah turut memperkuat kekhawatiran mereka terhadap kelangsungan lingkungan hidup di masa depan.

Keresahan yang dirasakan mendorong kelompok muda ini untuk makin vokal menyuarakan isu perubahan iklim. Melalui kampanye digital di platform Instagram dan TikTok, Generasi Z aktif membagikan konten edukatif; mengajak publik menghemat penggunaan air; serta mengampanyekan gerakan penanaman pohon. Tanggapan proaktif ini menunjukkan bahwa kecemasan yang mereka alami tidak memicu sikap apatis, melainkan menjadi pemantik kepedulian sosial yang nyata.

Musim kemarau yang meluas menjadi pengingat serius bahwasanya dampak perubahan iklim telah hadir di depan mata. Bagi Generasi Z, tantangan cuaca panas bukan sekadar urusan kenyamanan harian, melainkan panggilan untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan. Kesadaran serta aksi kolektif generasi muda ini diharapkan mampu menjadi pendorong utama dalam menjaga kelestarian bumi di tengah ancaman krisis iklim global.

Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani