Di media sosial, pengalaman patah hati tidak selalu dibagikan lewat unggahan galau atau cerita kesedihan. Sebagian anak muda justru memperlihatkan perubahan rutinitas dengan rajin berolahraga, mulai dari lari pagi, latihan beban di pusat kebugaran, bermain tenis, hingga mendaki gunung. Fenomena yang kerap disebut breakup gains ini menggambarkan kebiasaan mengalihkan energi setelah mengalami kekecewaan emosional ke aktivitas fisik.
Perubahan tersebut dapat terlihat dari rutinitas yang sebelumnya jarang dilakukan, kemudian menjadi kegiatan yang mulai dijalani secara teratur. Olahraga memberikan aktivitas yang membutuhkan fokus, tenaga, dan konsistensi. Bagi sebagian orang, berlari atau berlatih di pusat kebugaran juga menjadi cara untuk mengisi waktu dan mengalihkan perhatian sejenak dari persoalan pribadi yang sedang dihadapi.
Pilihan olahraga yang dilakukan pun beragam, menyesuaikan minat dan kemampuan masing-masing. Ada yang memilih lari karena praktis dilakukan di sekitar tempat tinggal, sementara lainnya tertarik mengikuti kelas kebugaran, bermain tenis, atau mendaki bersama teman. Seiring berjalannya waktu, aktivitas yang awalnya dilakukan untuk mengisi waktu luang dapat berkembang menjadi rutinitas baru yang membantu menjaga kebugaran tubuh.
Media sosial turut menjadi tempat bagi anak muda untuk membagikan perjalanan olahraga mereka, mulai dari dokumentasi latihan hingga pencapaian pribadi. Unggahan tersebut membuat istilah breakup gains semakin mudah ditemukan dalam percakapan digital. Meski demikian, tidak semua orang yang mulai rajin berolahraga setelah patah hati memiliki alasan yang sama, dan belum ada data yang memastikan seberapa luas fenomena ini terjadi di kalangan anak muda Indonesia.
Di balik istilah breakup gains, olahraga tetap dapat menjadi bagian dari upaya merawat diri di tengah berbagai perubahan hidup. Rutinitas yang dijalani secara bertahap bukan hanya berkaitan dengan pencapaian fisik, tetapi juga memberi ruang untuk kembali memperhatikan kebutuhan diri sendiri. Bagi sebagian orang, langkah pertama mungkin dimulai dari keinginan mengalihkan pikiran, lalu perlahan berkembang menjadi kebiasaan sehat yang tetap dijalani, bahkan setelah masa sulit terlewati.
Penulis Artikel: Lindah Oktarina

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.