YOGYAKARTA - Deru mesin kendaraan, debu jalanan, dan asap knalpot menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan perkotaan. Bagi pengendara sepeda motor, pedagang kaki lima, pekerja jalanan, hingga mahasiswa, paparan polusi lalu lintas kerap sulit dihindari. Di balik rutinitas tersebut, terdapat risiko kesehatan yang tidak selalu terlihat, terutama bagi saluran pernapasan.

Asap kendaraan mungkin menghilang tertiup angin, tetapi partikel pencemar yang dilepaskan ke udara tidak serta-merta hilang. Udara yang tampak bersih pun belum tentu bebas dari polutan yang dapat terhirup saat seseorang bernapas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa partikel halus PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan mencapai aliran darah. Paparan polusi udara berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk penyakit pernapasan (WHO, 2024).

Dampak paparan polusi udara tidak selalu langsung terasa. Paparan berulang dapat memicu iritasi saluran pernapasan, batuk, serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Risiko ini perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang menghabiskan banyak waktu di jalan.

Pengemudi ojek daring, petugas parkir, pedagang kaki lima, dan pekerja lapangan merupakan kelompok yang berpotensi mengalami paparan lebih lama. Bagi mereka, menghindari asap kendaraan bukan perkara mudah karena jalan raya menjadi tempat mencari nafkah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pencemaran udara bukan sekadar persoalan individu. Kepadatan lalu lintas, emisi kendaraan, dan kualitas lingkungan turut memengaruhi udara yang dihirup masyarakat setiap hari.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi pada saluran pernapasan yang umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri. Sementara itu, polusi udara dapat mengganggu kesehatan pernapasan dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit pernapasan tertentu, termasuk infeksi saluran pernapasan bawah akut.

Meski demikian, menghirup asap kendaraan tidak berarti seseorang pasti mengalami ISPA. Batuk dan tenggorokan terasa perih juga dapat disebabkan oleh iritasi akibat polusi udara. Karena itu, keluhan yang berkepanjangan atau semakin memburuk perlu diperiksakan kepada tenaga kesehatan.

Anak-anak, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu juga perlu lebih memperhatikan kualitas udara karena dapat lebih rentan terhadap dampak pencemaran.

Menghindari seluruh paparan polusi udara memang tidak selalu memungkinkan. Namun, masyarakat dapat mengurangi risiko dengan memantau kualitas udara, memilih rute yang lebih minim polusi, dan membatasi aktivitas berat di luar ruangan ketika tingkat pencemaran tinggi.

Penggunaan respirator seperti N95 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus, meskipun tidak melindungi dari seluruh gas pencemar kendaraan. Jika mengalami sesak napas berat atau kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.

Pada akhirnya, udara bersih bukan sekadar kenyamanan, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan. Di tengah padatnya jalanan, ancaman bagi pernapasan tidak selalu terlihat dari asap yang mengepul. Partikel pencemar yang terhirup tanpa disadari pun dapat membawa risiko bagi kesehatan.

Berikut isian yang bisa langsung kamu salin ke CMS RBTV Jogja sesuai artikel feature tentang asap kendaraan dan risiko gangguan pernapasan. 

PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI