YOGYAKARTA - Bagi ribuan pendukung setia PSIM Yogyakarta yang memadati tribun stadion, kabar perpisahan dengan Jean-Paul Van Gastel menghadirkan dinamika rasa yang campur aduk. Ada duka atas kepergian sosok penikmat budaya lokal yang ramah, namun ada pula kesadaran realistis akan perjalanan Laskar Mataram mengarungi kompetisi BRI Super League musim 2026/2027.

Di mata para suporter, pelatih kepala asal Belanda tersebut bukan sekadar juru taktik yang berdiri kaku di pinggir garis putih lapangan. Van Gastel dikenal begitu dekat dengan napas kehidupan tribun, ia kerap memberikan penghormatan tulus kepada para pendukung usai peluit panjang dibunyikan. Senyum ramah, sapaan hangat, serta ketelatenannya dalam merangkul para pemain muda telah mencuri hati masyarakat sepak bola di Kota Pelajar.

Namun, tribun stadion juga merupakan cermin realitas yang jujur. Pengumuman resmi perpisahan yang disampaikan jajaran manajemen pada pertengahan musim ini di Kompleks Balai Kota Yogyakarta terjadi akibat hasil evaluasi menyeluruh terhadap performa tim. Tren negatif serta kesulitan mengamankan poin penuh dalam beberapa laga awal menjadi alasan utama di balik keputusan berat tersebut. Demi kebaikan dan masa depan klub, kedua belah pihak akhirnya sepakat untuk menyudahi kerja sama secara baik-baik melalui penandatanganan kesepakatan bersama.

Walaupun kepastian ini terasa pahit, para pendukung menghormati jalan perpisahan tersebut dengan kepala tegak. Kini, harapan dan doa para suporter dialirkan kepada Guntur Cahyo Utomo yang ditunjuk sebagai pelatih sementara (caretaker). Dari atas tribun, gemuruh nyanyian dan dukungan tidak akan pernah surut untuk mengawal langkah Guntur merajut kembali kepercayaan diri para pemain jelang laga-laga krusial di depan mata.

Perpisahan ini bukanlah akhir dari rasa cinta. Kenangan akan kerja keras, dedikasi, serta kehangatan Jean-Paul Van Gastel akan tetap tersimpan rapi dalam memori kolektif suporter di Kota Budaya. Sepak bola mungkin memisahkan langkah profesional sang pelatih dengan Laskar Mataram, tetapi rasa hormat dari para pendukung akan selalu melekat abadi.

Ikatan emosional antara Van Gastel dan para pendukung Laskar Mataram memang tidak terbentuk dalam sekejap. Di balik riuh tribun yang tak pernah sepi, pelatih asal Belanda tersebut selalu meluangkan waktu untuk mendengarkan aspirasi dan keluh kesah para suporter dalam berbagai kesempatan tatap muka. Sikap rendah hati dan keterbukaannya dalam menerima kritik konstruktif menjadikan sosoknya dihormati, tidak hanya sebagai juru taktik profesional, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Yogyakarta.

Kini, tribun stadion bersiap membuka lembaran baru tanpa kehadiran sosok yang biasa membakar semangat dari pinggir lapangan tersebut. Kendati rasa kehilangan itu nyata, para pendukung berkomitmen untuk tetap memberikan pengawalan penuh kepada skuad PSIM Yogyakarta di bawah komando pelatih anyar. Kebersamaan yang pernah terjalin bersama Van Gastel akan menjadi fondasi kedewasaan bagi para suporter untuk terus berdiri tegap dan menyuarakan dukungan, sebab bagi mereka, cinta kepada klub akan selalu melampaui masa bakti siapa pun yang datang dan pergi.

 

Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani