YOGYAKARTA - Senyum di media sosial, kesibukan kuliah, hingga pencapaian yang terlihat membanggakan belum tentu menggambarkan kondisi emosional seseorang. Di balik kehidupan yang tampak baik-baik saja, generasi Z dapat menghadapi tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga tuntutan untuk selalu produktif.

Persoalan kesehatan mental remaja di Indonesia menjadi perhatian serius. Survei I-NAMHS yang dipublikasikan pada 2022 menemukan bahwa sekitar satu dari tiga remaja berusia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Tekanan juga dapat muncul ketika anak muda terus membandingkan kehidupannya dengan unggahan orang lain di media sosial. Perasaan tertinggal, takut gagal, dan kekhawatiran tidak memenuhi ekspektasi dapat memengaruhi kepercayaan diri serta kesejahteraan emosional.

Tanda tekanan mental tidak selalu terlihat jelas. Kesulitan tidur, perubahan suasana hati, sulit berkonsentrasi, hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang disukai patut diperhatikan, terutama jika berlangsung lama dan mengganggu kegiatan sehari-hari.

Menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidur cukup, berolahraga, membatasi penggunaan media sosial ketika terasa membebani, serta berbagi cerita dengan orang yang dipercaya. Jika tekanan terus berlanjut, bantuan psikolog atau tenaga kesehatan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.

Generasi Z tidak harus selalu terlihat kuat dan bahagia. Memberi ruang untuk beristirahat, mengungkapkan perasaan, dan mencari bantuan merupakan bagian dari menjaga kesehatan diri. Sebab, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan layak mendapat perhatian tanpa stigma.

PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI