BANTUL - Pondok Pesantren Al Mahali Watu Ageng, Mojolegi, Imogiri, Bantul, bersama gabungan kelompok tani setempat dan pemerintah daerah, mengembangkan gerakan tanam sorgum. Program ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan pangan lokal, sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kawasan Imogiri, Bantul, memiliki lahan marginal cukup luas dan dinilai potensial untuk budidaya sorgum. Salah satunya di Padukuhan Mojolegi, Karang Tengah, Imogiri, yang kini mulai mengembangkan produksi sorgum, melalui sinergi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, serta Kabupaten Bantul.
Ketua Gapoktan Karang Tengah, Sogiyanto mengatakan, masyarakat mulai antusias membudidayakan sorgum setelah mendapat edukasi, mengenai manfaat dan nilai ekonominya. Sorgum dapat dipanen dalam waktu sekitar dua hingga tiga bulan, dan dimanfaatkan untuk konsumsi, pakan ternak, maupun bibit.
“Pengelola di bumi ini kita harus tahu kapasitas kita, harus tahu daerah kita. Kalau misal ada di daerah yang berbatu atau daerah persawahan, kita harus bisa mengelola itu, jangan menunggu kita menjadi apa dulu, kita bergerak nanti insyaallah kita akan menjadi sesuatu itu” ujar Sogiyanto selaku Kepala Gapoktan.
Dari sisi ekonomi, sorgum konsumsi dapat dijual sekitar 7.000 rupiah per kilogram, sedangkan dalam bentuk bibit mencapai 11.000 rupiah per kilogram, dari sekitar 17 hektare lahan pertanian yang tersedia di Karang Tengah, sekitar 15 hektare diantaranya berpotensi dimanfaatkan untuk budidaya sorgum. Hasil uji coba menunjukkan produktivitas mencapai sekitar tiga ton per hektare.
Selain sebagai alternatif pangan pengganti beras, sorgum kaya serat dan dapat diolah menjadi berbagai produk makanan, seperti bubur dan jenang. Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan produk olahan berbasis sorgum, agar memiliki nilai tambah dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Masyarakat memang sangat antusias, setelah mengetahui hasilnya, dan mendengarkan penjelasan sangat antusias, sekarang sudah banyak sekali yang menanam disini. Waktu panennya tergantung rencananya, kalau untuk pakan ternak dua bulan sudah bisa dibabat, tapi kalau untuk konsumsi tiga bulan” ujar Joko Waluyo selaku Kepala DKPP Kab. Bantul.
Reporter : Delly RBTV
Penyunting Artikel : Danish
