YOGYAKARTA - Seni pertunjukan kethoprak terus menunjukkan daya pesonanya sebagai salah satu warisan budaya Jawa yang adiluhung; salah satunya tercermin dalam pergelaran Kethoprak Mataram yang dibawakan oleh paguyuban Cokro Joyo Kusuma. Pementasan yang membawakan lakon klasik Suminten Edan ini menyajikan perpaduan seni peran, musik gamelan, dan tata busana tradisional yang memikat. Dalam lakon tersebut, dinamika konflik emosional para tokoh disampaikan secara apik melalui ungkapan dialog (antawecana) dan kepiawaian seni akting para pemainnya. Kehadiran tembang-tembang Jawa yang melantun lembut sepanjang adegan turut memperkuat suasana magis panggung; sehingga emosi cerita, ketegangan, dan pesan moral yang terkandung di dalamnya dapat tersampaikan secara mendalam kepada para penonton yang menyaksikan.

Kelestarian pergelaran seni kethoprak tidak lepas dari komitmen para seniman tradisi yang konsisten menjaga keutuhan unsur-unsur pembentuknya; mulai dari pendalaman karakter, penjiwaan rasa, hingga keselarasan antara iringan musik dan gerak panggung. Lakon Suminten Edan menjadi simbol bagaimana ketegangan emosi, drama percintaan, serta nuansa tragedi mampu dikemas harmonis dalam balutan kebudayaan yang mengakar kuat. Setiap pergerakan pemain di atas panggung mencerminkan kekayaan estetika lokal yang sangat berharga; hal ini membuktikan bahwa seni pertunjukan tradisional memiliki daya pikat visual dan emosional yang tak lekang oleh waktu.

Melalui pementasan yang sarat akan nilai sejarah dan kearifan lokal ini, paguyuban Cokro Joyo Kusuma sukses membuktikan bahwa seni Kethoprak Mataram tetap relevan serta memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Keberadaan pergelaran seperti ini tidak hanya menjadi sarana hiburan yang menghibur; tetapi juga berfungsi sebagai wadah edukasi budaya yang sangat penting dalam merawat identitas serta warisan luhur Nusantara di tengah pesatnya arus modernisasi. Dengan terus dihadirkannya karya-karya berkualitas tinggi, generasi muda diharapkan dapat terus mengapresiasi dan menjaga kelestarian seni tradisi kethoprak agar tetap lestari sepanjang masa.

 

Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani