Jumlah titik panas atau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mengalami penurunan. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kebakaran yang berpotensi meluas di sejumlah wilayah.
Dikutip dari siaran pers Kementerian Kehutanan, Minggu (4/10/2026), pemantauan hingga Sabtu (3/10) pukul 21.10 WIB mencatat sebanyak 666 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional. Jumlah tersebut turun 605 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.271 titik.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi di antara enam provinsi prioritas, yakni 254 titik. Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 96 titik, Riau 32 titik, Kalimantan Barat 26 titik, Kalimantan Selatan 18 titik, dan Jambi tiga titik.
Pemerintah terus melakukan penanganan terpadu melalui kerja sama Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat. Operasi darat dan udara disiagakan untuk membantu memadamkan api, termasuk melalui penyiraman air dari udara atau water bombing.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa titik panas yang terdeteksi satelit tidak selalu menunjukkan kejadian kebakaran secara langsung. Karena itu, petugas perlu melakukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan kondisi dan luas area terdampak.
Masyarakat juga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan titik api maupun kepulan asap, warga diminta segera melaporkannya kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Penulis Artikel: Kirani Saragih
