YOGYAKARTA – Yogyakarta dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki beragam kesenian tradisional. Salah satu kesenian yang masih berkembang hingga saat ini adalah jathilan atau kuda lumping. Kesenian ini dikenal melalui tarian menggunakan properti kuda kepang, iringan musik tradisional, serta unsur ritual pada beberapa bentuk pertunjukannya.

Jathilan terus hadir di berbagai ruang berkesenian, mulai dari pentas kampung, panggung sekolah, hingga festival seni. Kesenian ini juga menjadi salah satu bentuk kesenian rakyat yang masih dijaga dan dikembangkan oleh masyarakat Yogyakarta.

Salah satu ciri khas jathilan adalah penggunaan kuda kepang yang dibuat dari anyaman bambu. Pertunjukannya menampilkan gerakan tari yang dinamis dengan iringan musik tradisional seperti gamelan atau kendang. Dalam beberapa pertunjukan, terdapat pula adegan trance atau kesurupan yang memberikan nuansa khas pada pertunjukan jathilan.

Seiring perkembangan zaman, jathilan mengalami berbagai bentuk penyesuaian. Di Kota Yogyakarta, kesenian ini mulai dikemas secara lebih kekinian melalui pengembangan koreografi, kolaborasi lintas genre, hingga penyajian yang lebih ramah bagi wisatawan. Perubahan tersebut membuat jathilan tetap dapat dinikmati tanpa menghilangkan identitas dasarnya.

Jathilan juga memiliki karakter yang berbeda di setiap wilayah. Di Kabupaten Bantul, misalnya, jathilan masih banyak mempertahankan pakem dan fungsi ritual. Sementara di Gunungkidul, jathilan memiliki daya tarik melalui gerakan penari putri yang lebih bebas dan ekspresif. Berbeda lagi dengan Kulon Progo yang memiliki jathilan khas bernama incling dengan iringan musik bambu krumpyung.

Dalam perkembangannya, jathilan dapat dibedakan menjadi empat kategori, yaitu jathilan pakem, jathilan kreasi baru, jathilan festival, dan jathilan hiburan. Keempat bentuk tersebut menunjukkan bahwa jathilan tidak hanya bertahan sebagai kesenian tradisional, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pertunjukan masa kini.

Keberadaan jathilan hingga sekarang menjadi salah satu bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang di tengah perkembangan zaman. Melalui berbagai bentuk pertunjukan dan kreativitas para pelakunya, jathilan tetap menjadi bagian dari identitas budaya Yogyakarta.

 

Penulis Artikel: Purnasari Nuraini