SLEMAN - Kemarau yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuat ratusan warga di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, menggelar Kenduri dan doa minta hujan. Acara diwujudkan dalam bentuk kirab budaya dengan membawa kendi berisi air, gunungan air, dan gunungan sayuran.

Sebelum diperebutkan, gunungan air dan gunungan sayuran, serta kendi berisi air hujan diarak keliling kampung sejauh satu kilometer. Di tengah arak-arakan, Bregada Langen Kesuma atau Bregada Putri menuangkan air dari kendi ke wadah lain sebagai simbol rasa syukur kepada sang pencipta.

Setibanya di pendopo, dua kendi diserahkan dan kemudian didoakan bersama masyarakat. Ritual doa minta hujan kemudian dilanjutkan oleh para penggiat seni sebagai simbol permohonan kepada sang pencipta agar musim kemarau segera berakhir dan hujan segera turun. 

“Dapat berkah dan air bersih, harapannya semoga airnya tambah banyak bisa buat kehidupan” ujar Murniati selaku warga.

Selesai ritual, ratusan warga kemudian berebut gunungan air dan sayuran. Dalam hitungan menit, gunungan tersebut habis diperebutkan warga. Masyarakat meyakini sayuran yang diperoleh dalam tradisi ini membawa keberkahan dan menjauhkan dari mara bahaya.

“Air itu hak publik, itu adalah simbol bahwa air itu untuk semua makhluk tuhan di bumi tidak terkecuali manusia, krisis air menjadi problem dimana-mana yang luar biasa, harapannya simbol rebutan air ini adalah simbol saat ini” ujar Sri Wahyuningsih selaku Ketua Komunitas Banyubening.

Doa yang dipanjatkan juga tidak hanya ditujukan bagi warga Yogyakarta, namun juga masyarakat di berbagai daerah yang saat ini mengalami kekeringan dan krisis air bersih agar segera mendapatkan hujan.

Reporter : Widi RBTV

Penyunting Artikel : Danish