Rangkaian kirab diawali dengan doa syukur dan permohonan keselamatan yang dipimpin rois setempat. Selain menjadi upaya melestarikan tradisi, kegiatan ini juga menjadi momen untuk mempererat kekompakan dan kerukunan antarwarga.
"Untuk syukuran dalam rangka bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita mengadakan syukuran kirab ini secara rutin," ujar H. Sumadi selaku Lurah Madurejo.
Menurut kisah yang berkembang di masyarakat atau wilayah Morobangun, konon pernah disinggahi tokoh Panji Asmoro Bangun. Jejaknya dikaitkan dengan sejumlah petilasan, di antaranya bekas masjid dan bebatuan lonjong menyerupai lumping yang diyakini dahulu digunakan sebagai tempat minum kuda.Tradisi tahunan ini turut dihadiri pamong Kalurahan serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Sleman. Selain menjadi bagian dari pelestarian budaya, Kirab Panji Asmoro Bangun juga disebut memiliki keterkaitan dengan sejarah penyebaran agama Islam di wilayah setempat.
"Lebih sebatas budayanya, bukan pada wisatanya. Ini sangat penting sekali. Kalau masalah perlu kompak, rukun, itu kan menjadi simbol utama," ujar Wildan Solichin selaku Asisten Sekda Kabupaten Sleman.
Sebagai puncak acara, enam gunungan hasil bumi yang telah diarak keliling dusun kemudian didoakan dan menjadi rebutan warga. Suasana semakin meriah dengan diadakannya pentas seni, mulai dari senam hingga tari tradisional jathilan. Para pelaku UMKM setempat juga turut memeriahkan acara dengan menjajakan beragam produk makanan dan minuman.Reporter: Widi RBTV
Penyunting Artikel: Widya Zahra Saharani
