YOGYAKARTA — Bicara soal Yogyakarta tentu tak bisa dilepaskan dari kuliner ikoniknya, Gudeg. Makanan tradisional berbahan dasar nangka muda (tewel) ini telah menjadi simbol identitas cita rasa Kota Pelajar yang terkenal dengan dominasi rasa manis dan gurihnya yang lembut. Salah satu racikan yang konsisten menjaga resep turun-temurun adalah gudeg kering legendaris yang banyak dijumpai di sudut-sudut kota.
Proses pembuatan gudeg terbilang membutuhkan kesabaran ekstra. Nangka muda dimasak secara perlahan selama berjam-jam bersama santan kental, gula jawa, serta balutan rempah-rempah seperti daun salam, lengkuas, dan ketumbar. Penggunaan tungku kayu bakar tradisional membuat bumbu meresap sempurna hingga ke serat dalam nangka, sekaligus menghasilkan warna cokelat kemerahan alami yang khas.
Dalam satu porsi gudeg lengkap, gurih manisnya nangka muda dipadukan dengan krecek (kerupuk kulit sapi) masak pedas berkuah areh kental, telur bacem, suwiran ayam kampung, hingga tahu dan tempe bacem. Perpaduan tekstur gudeg yang lembut serta sensasi pedas gurih dari sambal goreng krecek menciptakan keseimbangan rasa yang selalu dirindukan para wisatawan.
Di tengah gempuran tren kuliner modern, para pegiat kuliner tradisional tetap menjadi garda terdepan dalam merawat warisan budaya rasa khas Kota Yogyakarta.
Penulis Artikel: Lindah Oktarina

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.