KOTA YOGYAKARTA - Di tengah padatnya permukiman, pasangan suami istri di Gemblakan Atas, Danurejan, Kota Yogyakarta, memanfaatkan rooftop rumah sebagai lahan pertanian mini. Berbagai jenis sayuran ditanam di atas atap rumah.

Inilah rooftop rumah Daliman dan istrinya, yang disulap menjadi lahan urban farming. Di atas area yang terbatas, puluhan media tanam ditata secara rapi.

Bukan menggunakan pot mahal, Daliman memanfaatkan galon bekas sebagai wadah tanam. Media tersebut diisi campuran tanah, sekam padi, serta pupuk yang berasal dari kotoran ayam.

Berbagai tanaman tumbuh subur, mulai dari cabai, terong, tomat, ceri, hingga bawang merah.

Menariknya, Daliman menerapkan sistem tumpangsari dengan menanam beberapa jenis tanaman dalam satu media. Cara ini membuat lahan sempit dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal.

“Kalau cabai hampir empat bulan atau tiga bulan siap tumbuh jadi irit. Rencana saya kedepan saya tanam bawang dulu semua baru setelah itu cabai. Kalau saya pakai tanah, pakai sekam dan kotoran ayam. Kenapa saya pelihara ayam, karena saya ambil kotoran ayam yang tercampur dengan sekam tadi. Jadi memelihara ayam untungnya ada dua, dapat telur dan sekam yang tercampur kotoran ayam” ujar Daliman selaku petani urban farming.

Selain menghemat pengeluaran untuk kebutuhan dapur, hasil panen dari urban farming ini juga memiliki nilai ekonomi. Sebagian hasil pertanian dijual melalui pasar tani yang digelar setiap Jumat.

Langkah sederhana dari atas atap rumah ini menjadi bukti bahwa pertanian, tetap dapat dilakukan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.

Reporter : Agung RBTV

Penyunting Artikel : Danish