Yogyakarta - Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan tingginya intensitas penggunaan layar digital membawa dampak bagi kesehatan mental. Di balik segala kemudahan yang ditawarkan, masyarakat modern kini harus berhadapan dengan tantangan baru: AI fatigue dan screen overload. Fenomena ini tidak lagi sekadar membuat mata lelah secara fisik, tetapi juga berisiko mengikis kestabilan emosi dan kesejahteraan psikologis kita secara perlahan.
AI fatigue lahir dari kejenuhan mental akibat tuntutan untuk terus beradaptasi dengan ritme kerja berbasis teknologi yang bergerak makin cepat. Adanya dorongan terselubung untuk selalu responsif dan produktif sering kali memicu kecemasan yang tak disadari. Kehadiran kecerdasan buatan yang semula diharapkan menjadi solusi efisiensi kini justru kerap memicu imposter syndrome dan rasa takut tersingkir dari dunia profesional. Perasaan harus terus mengejar ritme mesin inilah yang akhirnya menguras energi kognitif kita tanpa henti.
Kondisi tersebut makin diperparah oleh screen overload, yaitu paparan layar perangkat digital yang sudah melampaui batas toleransi tubuh. Ketika kita menghabiskan sebagian besar waktu menatap layar ponsel, laptop, atau tablet, otak akan mengalami beban informasi berlebih (information overload). Stimulasi bertubi-tubi dari berbagai aplikasi, pesan, dan notifikasi memicu lonjakan hormon stres, merusak kualitas tidur, hingga menurunkan daya konsentrasi. Akibatnya, fokus kita makin mudah terpecah, interaksi di dunia nyata terasa hambar, dan hubungan sosial dengan orang-orang terdekat pun perlahan merenggang.
Lama-kelamaan, ketidakmampuan mengimbangi arus informasi ini menciptakan kejenuhan emosional yang melumpuhkan motivasi harian. Kita menjadi mudah lelah meski tidak melakukan aktivitas fisik yang berat, sebuah penanda bahwa energi mental telah terkuras habis oleh dunia maya.
Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental di tengah gempuran teknologi membutuhkan kesadaran diri serta batasan yang tegas. Menerapkan digital detox secara berkala, meluangkan waktu khusus tanpa menatap layar, serta mengalihkan fokus ke aktivitas fisik dan interaksi tatap muka menjadi langkah krusial untuk memulihkan kesegaran pikiran. Bagaimanapun, teknologi seharusnya hadir sebagai alat pendukung yang membantu hidup kita, bukan kendali utama yang mendikte ritme harian, kedamaian pikiran, dan kestabilan emosi manusia.
Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani
