KOTA YOGYAKARTA - Seorang pensiunan di Kota Yogyakarta harus kehilangan bantuan sosial yang selama ini menopang hidupnya. Bukan karena kondisinya membaik, Suwarno justru terdata dalam desil 10, kategori kelompok ekonomi teratas. Padahal, pria 70 tahun ini mengaku hanya mengandalkan uang pensiun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di usia 70 tahun, Suwarno menjalani hari-hari dalam keterbatasan. Warga Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta ini merupakan penyandang disabilitas.
Sejak pensiun sebagai pustakawan Universitas Islam Indonesia pada 2011, Suwarno hanya mengandalkan uang pensiun sekitar 900 ribu rupiah per bulan.
Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Namun, sejak April tahun lalu, bantuan sosial yang selama ini diterimanya berhenti.
Suwarno mengaku terkejut saat mengetahui namanya kini tercatat dalam desil 10 pada data sosial pemerintah. Kategori ini menempatkan dirinya dalam kelompok dengan tingkat kesejahteraan tertinggi, sehingga tidak lagi menjadi prioritas penerima sejumlah bantuan sosial.
Sejak sang istri meninggal pada 2010, Suwarno kini hidup sebatang kara. Di tengah kondisi tersebut, terhentinya bantuan sosial menjadi beban tambahan baginya. Bukan berdiam diri, Suwarno berupaya mencari kejelasan. Ia datang ke kantor kelurahan, hingga berkonsultasi ke kemantren setempat, untuk mempertanyakan status data sosialnya. Namun, upaya tersebut belum memberikan hasil seperti yang diharapkannya.
“Tiga bulan Cuma 600 ribu, artinya satu bulan di hargai 200 ribu, untuk zaman sekarang dapat apa, dapat garam. Sekarang ibu sudah meniniggal, saya dapat cuma satu tahun tiga bulan saja” ujar Suwarno selaku lansia pensiunan.
Di usia senja, Suwarno berharap ada verifikasi dan pemutakhiran data, agar kondisi sebenarnya dapat tergambar dengan lebih akurat. Sebab, bagi warga sepertinya ketepatan data bukan sekadar angka. Melainkan menyangkut akses terhadap bantuan, dan kelangsungan hidup di masa tua.
Reporter : Agung RBTV
Penyunting Artikel : Danish
