YOGYAKARTA - Nyeri dada, sesak napas, atau sensasi terbakar di bagian dada kerap dikaitkan dengan gangguan asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD). Namun, keluhan serupa juga dapat menjadi tanda masalah jantung yang membutuhkan penanganan segera.

Kesamaan gejala tersebut membuat sebagian orang kesulitan menentukan penyebab keluhan yang dialami. Padahal, menunda pemeriksaan atau mendiagnosis diri sendiri dapat meningkatkan risiko keterlambatan penanganan penyakit serius.

Nyeri dada dapat muncul karena berbagai penyebab, termasuk gangguan pencernaan dan penyakit jantung. Pada GERD, asam lambung yang naik ke kerongkongan dapat menimbulkan sensasi terbakar di dada, rasa asam di mulut, atau keluhan yang memburuk setelah makan maupun saat berbaring.

Sementara itu, gangguan jantung dapat menimbulkan rasa tertekan, tertindih, atau tidak nyaman di dada. Keluhan juga bisa disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, maupun rahang.

Meski terdapat perbedaan pola gejala, keduanya tidak selalu mudah dibedakan hanya berdasarkan sensasi yang dirasakan. Karena itu, nyeri dada yang mencurigakan perlu mendapatkan evaluasi medis, terutama jika muncul mendadak atau disertai gejala lain.

Deteksi dini berperan penting dalam membantu pasien memperoleh penanganan yang tepat. Pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui penyebab keluhan sekaligus menentukan langkah penanganan sesuai kondisi pasien.

Nyeri dada juga tidak sebaiknya dianggap sebagai gangguan asam lambung tanpa pemeriksaan. Gejala yang terasa mirip belum tentu memiliki penyebab yang sama, sehingga penilaian tenaga medis diperlukan untuk memastikan kondisi yang dialami.

Apabila mengalami nyeri dada yang baru muncul, berat, menetap, atau disertai sesak napas, keringat dingin, pingsan, maupun nyeri yang menjalar, segera cari pertolongan medis darurat. Jangan menunggu gejala mereda atau mencoba memastikan sendiri apakah keluhan tersebut berasal dari lambung atau jantung.

Rasa cemas terhadap kemungkinan diagnosis penyakit serius dapat membuat seseorang enggan memeriksakan diri. Namun, menunda pemeriksaan justru berisiko menghambat penanganan apabila keluhan disebabkan kondisi yang membutuhkan tindakan cepat.

Pemeriksaan oleh tenaga medis dapat mencakup penilaian gejala, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang sesuai kebutuhan. Langkah tersebut membantu dokter menentukan penyebab nyeri dada dan memberikan penanganan yang sesuai.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak menganggap semua nyeri dada sebagai gangguan asam lambung. Mengenali tanda bahaya dan segera mencari pertolongan saat diperlukan merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan.

PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI