YOGYAKARTA- Perundungan terhadap siswa masih menjadi persoalan serius dalam dunia pendidikan. sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk belajar dan mengembangkan diri justru dapat menjadi lingkungan yang menimbulkan rasa takut bagi anak ketika tindakan kekerasan tidak ditangani dengan tepat.

Peristiwa seperti ini menjadi pengingat bahwa perundungan bukan sekadar persoalan antarteman yang dapat dianggap sebagai candaan. tindakan mengejek, mengucilkan, mengancam, hingga melakukan kekerasan fisik dapat membuat siswa merasa tidak aman dan mengganggu kenyamanan mereka selama mengikuti kegiatan belajar.

Dampak perundungan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan diri, kesehatan mental, dan semangat belajar siswa. Korban bahkan dapat merasa enggan pergi ke sekolah karena khawatir mengalami perlakuan serupa.

Pencegahan perundungan membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. Guru dan pihak sekolah perlu mengenali perubahan perilaku siswa, menanggapi laporan dengan serius, serta memastikan korban mendapatkan perlindungan. Orang tua juga perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman menceritakan pengalaman yang dialaminya.

Selain itu, siswa perlu diajak memahami pentingnya menghargai perbedaan dan berani membantu teman yang mengalami perundungan. Sikap diam atau ikut menertawakan korban dapat membuat tindakan tersebut semakin sulit dihentikan.

Pendidikan bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan dan nilai akademik. Sekolah juga harus menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan karakter serta rasa aman bagi setiap siswa. Dengan kepedulian serta kerja sama pendidik dan keluarga, lingkungan pendidikan diharapkan dapat terbebas dari perundungan sehingga setiap anak memiliki kesempatan belajar dan berkembang secara optimal.

 Penulis artikel: Kirani Saragih