KULON PROGO - Program Ambarawa (Aksi Mandiri Bawa Air) yang selama ini menjadi solusi pemenuhan kebutuhan air di sekolah, kini terpaksa dihentikan akibat kekeringan ekstrem.

Keterbatasan air yang juga dialami warga membuat para wali murid kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk keluarga. Kondisi ini salah satunya terjadi di SD Negeri Jatiroto, Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo.

Kepala SD Negeri Jatiroto, Rina Yulianti, mengatakan program Ambarawa sebelumnya dilaksanakan dengan meminta setiap siswa membawa sebotol air dari rumah. Air tersebut kemudian dikumpulkan dalam bak penampungan untuk memenuhi kebutuhan sanitasi siswa di sekolah, termasuk mencuci tangan.

Namun, sejak oktober ini, program tersebut terpaksa dihentikan karena persediaan air warga semakin terbatas. Pihak sekolah pun mulai bergantung pada bantuan distribusi air bersih.

"Untuk program Ambarawa ini sementara terpaksa kita hentikan karena kondisi kekeringan yang cukup ekstrem dan keterbatasan air dari warga sendiri juga semakin menipis. Otomatis kebutuhan air di sekolah ini kita alihkan atau bergantung pada bantuan pengiriman air bersih yang datang,” ujar Rina Yulianti selaku Kepala SDN Jatirojo.

Sebagian warga kini bergantung pada distribusi air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo. Sementara itu, warga lainnya memanfaatkan sumber mata air di dekat tempat tinggal mereka, meski harus mengantre karena debit air yang relatif kecil. Kondisi ini membuat pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi semakin sulit, baik bagi masyarakat maupun lingkungan sekolah.

"Sangat kesulitan sekali. Karena, untuk kebutuhan air di rumah saja sekarang harus ngantre dan ambil dari sumber mata air yang jaraknya cukup jauh. Jadi untuk bawa air ke sekolah seperti program Ambarawa kemarin sudah tidak memungkinkan lagi karena air di rumah untuk kebutuhan keluarga saja sekarang sudah pas-pasan,” ujar Fitri Nurhayati selaku Wali Murid.

 

Reporter: Bagas RBTV

Penyunting Artikel: Widya Zahra Saharani