YOGYAKARTA - Mendengarkan musik sering menjadi cara sederhana untuk menemani waktu istirahat maupun aktivitas sehari-hari. Namun, di balik irama yang terdengar, musik ternyata juga dapat mempengaruhi respons tubuh, termasuk pola pernapasan dan detak jantung.
Perubahan ini berkaitan dengan tempo musik yang didengarkan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Heart pada 2006 oleh Luciano Bernardi dan timnya menemukan bahwa tempo musik berkaitan dengan perubahan frekuensi pernapasan dan detak jantung.
Musik dengan tempo cepat cenderung meningkatkan respons fisiologis tubuh, sedangkan musik lambat dapat memberikan efek yang lebih menenangkan. Temuan ini menunjukkan bahwa musik tidak hanya diterima sebagai rangsangan pendengaran, tetapi juga berkaitan dengan respons tubuh manusia.
Respons tubuh tersebut terjadi karena otak tidak hanya memproses musik sebagai rangsangan pendengaran, tetapi juga merespons irama dan perubahan suasana yang ditimbulkannya. Ketika seseorang mendengarkan musik, sistem yang mengatur fungsi otomatis tubuh, termasuk pernapasan dan kerja jantung, dapat ikut mengalami perubahan.
Musik bertempo lambat dapat menjadi pilihan saat seseorang ingin beristirahat atau menciptakan suasana yang lebih tenang. Sementara itu, musik dengan irama cepat dapat membantu membangun semangat ketika melakukan aktivitas fisik.
Meski demikian, napas dan detak jantung tidak selalu bergerak mengikuti ketukan musik secara langsung. Pengaruhnya dapat berbeda, bergantung pada tempo lagu, kondisi pendengar, serta situasi ketika musik didengarkan.
Karena itu, musik dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari rutinitas untuk menciptakan suasana yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Memilih lagu yang tepat dan memberi waktu untuk beristirahat tetap menjadi hal penting agar aktivitas sehari-hari terasa lebih nyaman.
Penulis Artikel: Dyna Mulia Safitri
