YOGYAKARTA - Lampu panggung meredup. Ribuan tangan mulai terangkat, sorak penonton menggema, dan musik yang selama ini hanya terdengar melalui earphone kini mengalun langsung di hadapan mata. 
Di tengah kerumunan itu, seseorang ikut bernyanyi sekeras mungkin, seolah seluruh beban yang dibawanya selama berhari-hari perlahan luruh bersama setiap bait lagu. Bagi Generasi Z (Gen Z), konser bukan sekedar ajang menonton musik favorit. Lebih dari itu, konser menjadi ruang untuk mengekspresikan emosi, berkumpul bersama teman, dan menikmati momen tanpa harus terus memikirkan tuntutan sehari-hari.
Musik yang terdengar secara langsung juga menghadirkan pengalaman berbeda. Menyanyikan lagu favorit bersama ribuan orang dapat menciptakan rasa kebersamaan dan menghadirkan kebahagiaan yang sulit diperoleh dari mendegarkan musik sendirian. Hal ini sejalan dengan penelitian Nicole Koefler dan rekan-rekannya yang di terbitkan dalam jurnal Personality and Social Psychology Bulletin.
Penelitian terhadap 789 partisipan dalam empat studi menemukan bahwa pengalaman kebersamaan dalam acara musik langsung berkaitan dengan dampak positif, termasuk kebahagiaan yang masih dirasakan satu minggu setelah acara.Meski demikian, konser bukan solusi untuk semua persoalan stres. Setiap orang memiliki pengalaman berbeda, dan menjaga kesehatan mental tetap membutuhkan keseimbangan antara hiburan, istirahat, serta dukungan sosial.
Ketika konser berakhir dan lampu panggung kembali padam, masalah sehari-hari mungkin masih menunggu. Namun, kenangan menyenangkan dan pengalaman bersama orang lain dapat menjadi bekal emosional untuk kembali menjalani rutinitas. Bagi Gen Z, konser bukan berarti melarikan diri dari kenyataan, melainkan mengambil jeda sejenak untuk bernapas, menikmati hidup dan mengumpulkan semangat baru.
Penulis Artikel : Dyna Mulia Safitri