BANTUL - Warisan keluarga tak selalu berupa harta benda, tetapi juga keterampilan dan usaha yang diwariskan lintas generasi. Inilah yang dilakukan Muryati, 54 tahun, warga Wonorejo II, Gadingsari, Sanden, Bantul, yang kembali merintis usaha sagon gulung peninggalan orang tuanya melalui Sagon Gulung Makmur.
Usaha tersebut awalnya dirintis oleh orang tua Muryati dengan menjual sagon gulung langsung ke pasar. Sejak 1997, pemasaran mulai berkembang dengan bantuan sejumlah pedagang. Pada masa kejayaannya, kebutuhan bahan baku untuk produksi bahkan mencapai 50 kilogram per hari. 
Muryati mengaku sudah mengenal proses pembuatan sagon gulung sejak masih bersekolah. Setelah lulus sekolah pada 1991, usaha keluarga itu terus berkembang hingga produknya dipasarkan melalui para pedagang. “Kalau sebenarnya, sejak saya masih SMP, orang tua saya itu sudah buat. 
"Saya lulus SMP itu tahun 1991. Tahun 1997 itu buat banyak lalu ada yang menjualkan, gitu lo Mbak. Lalu karena ada corona, itu berhenti sebentar terus sekarang saya melanjutkan lagi,” ujar Muryati.
Namun, perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan dengan mulus. Pandemi COVID-19, kenaikan harga bahan baku, dan usia orang tuanya yang semakin lanjut membuat produksi sagon gulung sempat terhenti. 
Muryati kemudian melanjutkan usaha keluarga tersebut agar tetap bertahan.Kini, Sagon Gulung Makmur memproduksi berdasarkan pesanan dan menitipkannya di sejumlah warung atau toko. Dalam sekali produksi, Muryati mengolah lima hingga enam kilogram bahan baku menjadi sekitar 250-300 buah sagon gulung yang dijual seharga Rp2.000 per buah. Meski produksinya belum kembali seperti dahulu, Muryati tetap menjalankan usaha tersebut untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Ia juga bekerja di sawah untuk menambah penghasilan sekaligus menjadi keberlangsugan usaha dan jajanan tradisional warisan orang tuanya.
Penulis Artikel : Dyna Mulia Safitri