YOGYAKARTA - Media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari Generasi Z. Melalui berbagai platform digital, anak muda dapat mengikuti aktivitas teman, melihat pencapaian orang lain, hingga mendapatkan informasi terbaru. Namun, kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain dapat menimbulkan tekanan psikologis.

Kecenderungan anak muda merasa cemas ketika membandingkan kehidupannya dengan standar yang terlihat di media sosial. Unggahan mengenai keberhasilan akademik, pekerjaan, gaya hidup, dan pencapaian finansial dapat membuat seseorang merasa tertinggal.

Kehidupan yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi seseorang secara keseluruhan. Banyak orang hanya membagikan momen terbaik, sedangkan kesulitan dan kegagalan mereka tidak selalu terlihat oleh publik. Akibatnya, pengguna dapat memiliki gambaran yang tidak seimbang tentang kehidupan orang lain.

Untuk mengurangi tekanan, anak muda dapat membatasi waktu penggunaan media sosial, berhenti mengikuti akun yang memicu perasaan negatif, dan lebih menghargai perkembangan diri sendiri. Setiap orang memiliki proses dan kondisi kehidupan yang berbeda.

Kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan tenaga profesional dapat menjadi langkah yang tepat. Media sosial seharusnya menjadi sarana untuk terhubung, bukan alasan untuk terus meragukan diri sendiri.

penulis artikel: Kirani Saragih