KOTA YOGYAKARTA - Kraton Yogyakarta kembali menggelar rangkaian tradisi sekaten. Salah satunya Tabuh Gongso atau penabuhan Gamelan Sekati, di Pagongan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Masyarakat dapat menyaksikan langsung, rangkaian kegiatan ini.

Suara tabuhan Gamelan Sekati, kembali mengisi kawasan Pagongan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Tabuh Gongso menjadi salah satu rangkaian penting dalam tradisi sekaten, yang digelar Kraton Yogyakarta menjelang Grebeg Maulud.

Berdasarkan tata cara Kraton Yogyakarta, penabuhan dimulai Kamis, 20 Agustus 2026, pukul delapan hingga sebelas pagi, dan dilanjutkan pukul dua hingga lima sore. Sementara Jumat, 21 Agustus, tabuhan gamelan berlangsung pukul delapan malam hingga sebelas malam. Pada Sabtu hingga Senin, 22 hingga 24 Agustus, gamelan sekati ditabuh tiga sesi, yakni pagi, siang, dan malam. Sedangkan Selasa, 25 Agustus, penabuhan digelar pada pagi hari, pukul delapan hingga sebelas.

Tak hanya tabuhan gamelan, tradisi sekaten juga menjadi momen hadirnya beragam kuliner khas. Salah satunya endog abang, telur yang direbus dan diberi warna merah, serta nasi gurih yang banyak dicari masyarakat. Para pedagang pun memanfaatkan momen sekaten, dengan membukan lapak di sekitar pagongan.

“Pas sekaten saja, kalau tidak sekaten ya tidak ada yang jual, ini buat sendiri” ujar Kridomurti selaku penjual endog abang

Bagi para pedagang, sekaten bukan hanya menjadi bagian dari tradisi, tetapi juga menjadi momen untuk menghidupkan kembali kuliner khas yang lekat dengan perayaan maulud.

“Seperti nasi kuning Cuma tidak pakai kunyit, jualannya untuk sekaten ini, saya dari sekitar sini saja, nasi gurih namanya” ujar Juminten selaku penjual nasi gurih.

Kini, masyarakat diberi kesempatan untuk menyaksikan langsung tabuhan Gamelan Sekati, dengan menyesuaikan waktu kunjungan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Reporter : Agung RBTV

Penyunting Artikel : Danish