BANTUL - Wuwungan, atau mahkota penghias atap rumah tradisional Jawa, tidak hanya berfungsi sebagai ornamen, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang sarat makna dan filosofi. Hal inilah yang mendorong dosen sekaligus peneliti Yogyakarta, Arif Suharson, melakukan riset mendalam tentang wuwungan.
Penelitian terhadap wuwungan, atau mahkota penghias atap rumah tradisional Jawa ini sebagai ekspresi budaya Jawa dan upaya revitalisasi seni hias arsitektur tradisional.
Penelitian oleh dosen ISI Yogyakarta, Arif Suharson, dilakukan dengan mengkaji berbagi bentuk rumah tradisional di sejumlah wilayah pulau Jawa, serta melibatkan pakar seni, Arkeolog, dan budaya Jawa.
Kajian juga membahas wuwungan dari berbagai sudut pandang, mulai seni wayang, kriya logam, gerabah, ornamen tradisional, seni ukir, hingga seni hias wuwungan.
Menurut Arif Suharson, wuwungan kini semakin terpinggirkan seiring perubahan bentuk rumah tradisional menjadi modern. Padahal, di balik bentuk dan ornamennya, terkandung nilai filosofis dan kearifan lokal yang mencerminkan jati diri masyarakat Jawa.
“Mengambil tema revitalisasi karena memang penting sekali, bahwa wuwungan ini memiliki bentuk-bentuk yang unik di daerah Jawa, dan juga bentuk-bentuk unik itu memiliki makna, makna itu kita sampaikan dalam bentuk revitalisasi dengan nanti tulisan sebuah buku yang itu bisa dipelajari dan mungkin menjadi pembelajaran masyarakat mendatang dan menjadi referensi bagi pembangunan rumah tradisional Jawa yang memiliki bentuk fungsi nilai makna yang sarat dengan doa dan harapan bagi penghuninya” ujar Arif Suharson selaku peneliti ISI Yogyakarta.
Melalui penelitian ini, wuwungan diharapkan tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam pendidikan karakter, penguatan identitas nasional, dan pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal.
“Arti dari filosofi dari ornament banyak sekali. Saya ambil contoh satu saja, misalnya nanasan yang di atas rumah joglo itu, nanasan itu nas, orang Jawa mengatakan hablumminannas dari Bahasa Arab, dan artinya dari ahli ornament, sehebat apapun manusia yang hidupnya tidak dicurahkan kepada masyarakat tidak ada artinya” ujar Ahmad Zaenuri selaku penggiat seni wuwung.
Reporter : Delly RBTV
Penyunting Artikel : Danish
