GUNUNGKIDUL - Keselamatan nelayan tak hanya bergantung pada kesiapan saat melaut. Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI), mendorong perempuan nelayan turut membangun budaya keselamatan, dimulai dari lingkungan keluarga.
Melalui program fisherwomen as agents of change (FAOC) 2, sekitar 100 peserta yang terdiri dari 50 nelayan dan 50 istri nelayan mengikuti pembekalan di Pendopo Pantai Baron, Gunungkidul.
Salah satu materi yang diberikan adalah bimbingan teknis Standar Kecakapan Nelayan (SKN). Dalam pembekalan ini, nelayan diingatkan untuk memastikan kondisi cuaca, kapal dan mesin, muatan, serta kelengkapan administrasi sebelum berlayar.
Perlengkapan keselamatan, seperti pelampung lifebuoy, alat pemadam api, senter, peluit, dan P3K, juga harus dipastikan dalam kondisi siap digunakan.
Program ini juga menempatkan perempuan nelayan sebagai bagian penting dalam membangun kebiasaan keselamatan di lingkungan keluarga. Mereka diharapkan turut mengingatkan suami dan anak sebelum beraktivitas di laut.
“Peduli terhadap keselamatan dan
keamanan nelayan di Indonesia, termasuk di Gunungkidul. Yang menjadi
permasalahan adalah karena nelayan merupakan salah satu profesi yang turun
menurun dan menjadi bagian dari tradisional Indonesia. Terkadang, ketika
penerapan keselamatan masih baru, ada beberapa hal yang cukup sulit dilakukan. Agar lebih mudah dipraktikkan oleh bapak-bapak
nelayan, kami juga memaksimalkan peran perempuan, baik sebagai istri maupun anak,
untuk mengingatkan suami atau ayahnya agar tidak lupa menggunakan semua
peralatan yang sifatnya menunjang keselamatan saat melaut” ucap Orima Melati
Davey selaku Tim Acara GISLI.
Selain materi keselamatan, peserta perempuan juga mendapat pembekalan mengenai kewirausahaan, pengembangan usaha, dan pemasaran digital. Pembekalan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga pesisir, termasuk melalui usaha warung dan produk olahan hasil perikanan.
Reporter: Agung RBTV
Penyunting Artikel: Purnasari Nuraini
