GUNUNGKIDUL – Krisis air bersih masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Kapanewon Panggang, warga mengaku pasokan air dari PDAM tidak lancar, bahkan ada yang tidak menerima aliran air hingga hampir satu bulan.
Kondisi kekeringan ini memaksa warga membeli air tangki secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejumlah warga mengaku air dari jaringan PDAM hanya mengalir dua minggu sekali, sementara sebagian lainnya tidak mendapatkan pasokan sama sekali selama sebulan terakhir.
Salah seorang warga Sawahan, Panggang, Ngatini, mengaku tetap membayar tagihan rutin PDAM sekitar Rp65.000 per bulan meski pasokan air tidak lancar. Demi memenuhi kebutuhan harian, ia harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air tangki seharga Rp150.000 per tangki.
"Satu bulan ini tidak pernah mengalir, tetap bayar tagihan sekitar Rp65.000. Untuk kebutuhan sehari-hari itu beli, per tangki Rp150.000" ujar Ngatini selaku Warga.
Untuk membantu meringankan beban warga, Anggota Komisi VII DPR RI Gandung Pardiman bersama Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DIY Syarif Guska Laksana menyalurkan 20 tangki air bersih ke lima wilayah di Kapanewon Panggang.
Relawan Gandung Pardiman Center (GPC) Handayani Haryanto menjelaskan bahwa penurunan debit air menjadi penyebab utama distribusi PDAM tidak maksimal. Akibatnya, warga yang sudah terhubung jaringan PDAM tetap membutuhkan bantuan suplai air bersih.
"Yang terdampak kekeringan ini sebenarnya sudah ada PAM dari Pemkab, tetapi tidak mengalir di musim kemarau ini. Hari ini kita kasih bantuan di beberapa titik lokasi, setelah kemarin kita melakukan pemberian bantuan di Bantul" ujar Syarif Guska Laksana selaku Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD DIY.
Bantuan air bersih tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan harian warga selama musim kemarau panjang. Sebelum di Gunungkidul, penyaluran bantuan serupa juga telah dilakukan di sejumlah titik terdampak kekeringan di Kabupaten Bantul.
Reporter: Agung RBTV
Penyunting artikel: Lindah
