BANTUL– Wedang uwuh merupakan minuman tradisional khas Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Minuman ini dikenal melalui warna merah yang berasal dari kayu secang serta aroma rempah yang khas. Wedang uwuh biasanya disajikan dalam keadaan hangat sehingga cocok dinikmati ketika cuaca dingin maupun saat bersantai bersama keluarga.
Nama wedang uwuh berasal dari bahasa Jawa. Kata wedang berarti minuman, sedangkan uwuh berarti sampah. Penamaan tersebut merujuk pada tampilan bahan-bahan berupa dedaunan dan potongan rempah yang terlihat bercampur di dalam minuman. Meski namanya berarti sampah, bahan yang digunakan merupakan rempah dan tumbuhan yang telah dipilih untuk diolah menjadi minuman tradisional.
Bahan wedang uwuh umumnya meliputi jahe, kayu secang, cengkeh, kayu manis, daun pala, dan gula batu. Beberapa racikan juga menggunakan serai dan kapulaga. Bahan-bahan tersebut diseduh dengan air panas atau direbus hingga menghasilkan warna merah serta aroma rempah yang kuat. Jahe memberikan sensasi hangat, sementara gula batu menambahkan rasa manis pada minuman.
Wedang uwuh memiliki cerita sejarah yang berkaitan dengan kawasan Imogiri dan masa pemerintahan Sultan Agung pada abad ke-17. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat dan lingkungan Makam Raja-Raja Imogiri, minuman ini bermula dari racikan wedang secang yang secara tidak sengaja bercampur dengan dedaunan kering. Cerita tersebut menjadi bagian dari tradisi lisan yang menyertai keberadaan wedang uwuh hingga dikenal luas seperti sekarang.
Seiring waktu, wedang uwuh tidak hanya dinikmati sebagai minuman rumahan, tetapi juga menjadi salah satu produk kuliner dan oleh-oleh khas Bantul. Minuman ini bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana racikan rempah sederhana dapat menjadi bagian dari identitas kuliner sekaligus tradisi masyarakat setempat.
Penulis Artikel: Purnasari Nuraini.

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.