YOGYAKARTA - Semarak kuliner pagi di Yogyakarta tidak pernah lepas dari keberadaan jajanan pasar tradisional yang menggugah selera. Di antara beraneka ragam kue basah yang dijajakan, lupis ketan menjadi salah satu jajanan tradisional paling populer yang saban pagi selalu diserbu oleh pembeli dari kalangan Generasi Z. Kuliner manis yang pernah tampil dalam dokumenter kuliner internasional ini menyajikan kenikmatan rasa sederhana yang sangat berkesan.
Lupis terbuat dari olahan beras ketan putih yang dimasak dalam balutan daun pisang berbentuk silinder panjang hingga memiliki tekstur yang kenyal dan padat. Saat dipesan, potongan lupis ketan akan ditaburi dengan parutan kelapa muda yang gurih, kemudian disiram dengan juruh, yaitu kuah gula jawa cair yang dimasak kental hingga beraroma karamel yang manis pekat (legi). Perpaduan antara gurihnya ketan dan kelapa serta manisnya gula jawa menciptakan kombinasi rasa yang sangat pas di lidah.
Bagi Generasi Z, berburu lupis manis ini membutuhkan perjuangan ekstra karena harus mengambil nomor antrean sejak subuh sebelum lapak dibuka. Namun, proses menunggu ini justru dianggap sebagai bagian dari pengalaman kuliner (food hunting) yang seru dan berkesan. Momen saat penjual dengan terampil memotong lupis menggunakan benang dan menyiramkan kuah gula jawa kental menjadi atraksi visual yang sangat menarik untuk diabadikan dalam bentuk video pendek di media sosial.
Selain lupis, lapak sederhana di pinggir jalan ini juga menyajikan kombinasi jajanan pasar tradisional lainnya; seperti cenil yang kenyal berwarna-warni, tiwul gurih dari olahan singkong, serta gathot. Menyantap sepinggan daun pisang berisi aneka penganan tradisional ini di pagi hari memberikan energi positif dan kepuasan tersendiri sebelum memulai aktivitas harian di Kota Pelajar.
Keberadaan lapak lupis legendaris ini menjadi bukti nyata bahwa jajanan pasar tradisional mampu bersaing dengan aneka camilan modern kekinian. Ketulusan dalam mempertahankan resep asli serta kualitas bahan baku membuat kuliner manis ini terus dicintai oleh generasi muda sebagai simbol kelezatan jajanan warisan nusantara.
Tingginya antusiasme anak muda terhadap kuliner manis tradisional ini juga membuktikan bahwa penganan lokal memiliki daya tarik estetika yang sangat kuat di era digital. Kebiasaan Generasi Z yang gemar membagikan ulasan kuliner autentik tidak hanya memperpanjang napas keberadaan jajanan pasar, melainkan juga membangkitkan rasa bangga terhadap ragam kekayaan rasa nusantara. Lewat sepiring lupis berbalut gula jawa kental, kehangatan tradisi kuliner Indonesia akan terus terawat dan diwariskan secara indah dari masa ke masa.
Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.