YOGYAKARTA — Kebiasaan langsung berbaring atau rebahan setelah selesai makan kini kian marak ditemui di kalangan mahasiswa dan anak kos. Padahal, posisi tubuh yang terlentang setelah makan dapat memicu timbulnya gangguan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau naiknya asam lambung menuju saluran kerongkongan.

Saat seseorang langsung berbaring, gaya gravitasi tidak lagi membantu mendorong makanan dan asam lambung tetap berada di dalam lambung. Kondisi ini menyebabkan katup pembatas antara lambung dan kerongkongan melemah, sehingga cairan asam mudah naik dan menimbulkan rasa panas bergetar di area dada (heartburn).

Selain rasa terbakar di dada, gejala GERD juga sering ditandai dengan mulut terasa pahit, sering bersendawa, hingga rasa mengganjal di tenggorokan saat menelan. Jika kebiasaan ini dibiarkan terus-menerus dalam jangka panjang, iritasi asam lambung berisiko memicu peradangan kronis pada dinding kerongkongan.

Para ahli kesehatan menyarankan untuk memberi jeda waktu minimal dua hingga tiga jam antara waktu makan dan waktu tidur atau berbaring. Mengisi jeda waktu tersebut dengan aktivitas ringan seperti duduk tegak, merapikan meja, atau berjalan santai dapat membantu mempercepat proses pencernaan makanan secara alami.

Mengatur porsi makan agar tidak terlalu kenyang serta membatasi makanan tinggi lemak dan pedas di malam hari juga efektif menekan risiko naiknya asam lambung. 

Kedisiplinan dalam menjaga pola setelah makan menjadi langkah krusial untuk mencegah timbulnya masalah pencernaan di usia muda.

Penulis Artikel: Lindah Oktarina