KULON PROGO - Petani di Kulon Progo mengeluhkan ketersediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi lahan di perbukitan Menoreh. Salah satunya ketersediaan pompa air berukuran 2 hingga 3 inci yang dinilai lebih mudah dioperasikan di lahan sawah terasering.
Selama ini bantuan pompa air yang disalurkan memiliki kapasitas 4 inci. Ukuran tersebut dinilai terlalu besar, sehingga menyulitkan petani saat mengoperasikannya di lahan perbukitan.
Padahal, penyaluran alsintan terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, sekaligus membantu petani menghemat tenaga dan meningkatkan pendapatan.
Keluhan ini semakin dirasakan saat musim kemarau panjang yang memicu kekeringan di sejumlah wilayah Perbukitan Menoreh. Petani membutuhkan pompa air yang sesuai dengan kondisi lahan agar sumber air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Yang skala kecil 2 inci atau 3 inci, karena yang turun beberapa waktu lalu juga saat ini terasering 4 inci. Jadi, terlalu berat atau terlalu besar ketika harus dibawa untuk ke daerah terasering yang ada di wilayah. Dan sumber air kita juga terbatas, walau sampai saat ini memang bantuan pompa air masih dirasakan, terutama tadi yang kami sampaikan kesesuaian pompa air dengan sumber airnya, yaitu pompa air dengan 2 inci,” ujar Kirmi selaku Ketua Tim Kerja DPP Kulon Progo.
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo menyiapkan langkah mitigasi kekeringan, salah satunya dengan memanfaatkan saluran irigasi kecil sebagai sumber air pertanian. Upaya ini diharapkan dapat membantu petani mempertahankan produktivitas lahan hingga musim kemarau berakhir.
“Kalau terkait dengan kemarau, mungkin kemarin kita sudah koordinasikan, kita sudah optimalkan kemanfaatan sumber-sumber air selain air irigasi yang memang untuk kondisi kemarau seperti ini menjadi terbatas. Ini kemarin penggunan pompa-pompa air, kemudian irigasi alternatif kita memanfaatkan irigasi kecil menjadi sumber-sumber irigasi yang kita harapkan untuk bisa menopang sampai dengan nanti di 2026 ini bisa selesai. Harapannya bisa selamat pertanian Kulon Progo,” ujar Heni Hernawati selaku Kepala Dispertan Kulon Progo.
Reporter: Bagas RBTV
Penyunting Artikel: Widya Zahra Saharani
