YOGYAKARTA - Masyarakat tradisional di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki ragam warisan budaya spiritual yang diwariskan secara turun-temurun, salah satu perayaan adat yang terus dipelihara hingga saat ini adalah tradisi Rebo Pungkasan. Perayaan adat ini diselenggarakan secara rutin pada hari Rabu terakhir dalam bulan Safar pada penanggalan Jawa atau Islam, momentum tersebut dimaknai oleh masyarakat setempat sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui Doa Bersama.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi keagamaan yang dipimpin oleh para tokoh agama dan sesepuh adat; mereka memimpin pembacaan doa keselamatan agar seluruh warga terhindar dari marabahaya, bencana alam, serta wabah penyakit. Suasana khusyuk terlihat dari kekhidmatan warga yang berkumpul di sepanjang area tepi sungai, keberadaan aliran sungai tersebut memiliki nilai historis dan simbolis sebagai sarana penyucian diri serta lambang keberlangsungan kehidupan.
Setelah doa keselamatan selesai dipanjatkan, puncak ritual dilanjutkan dengan pemotongan dan pembagian makanan tradisional berupa lemper berukuran raksasa. Kudapan khas yang terbuat dari olahan beras ketan dan isian daging tersebut sebelumnya telah diarak keliling desa. Makanan ini kemudian dibagikan secara gratis kepada para pengunjung serta warga setempat. Pembagian makanan ini mengandung makna filosofis mengenai pentingnya kepedulian sosial; kegiatan tersebut juga menjadi simbol rasa syukur atas kelimpahan rezeki yang diterima oleh masyarakat.
Kehadiran perayaan tahunan ini tidak hanya terbatas pada ritual keagamaan dan pembagian kudapan tradisional, penyelenggara juga melengkapi acara dengan pertunjukan seni daerah serta pasar rakyat. Aneka produk kerajinan tangan dan hasil usaha mikro lokal dijajakan di sepanjang area pelaksanaan acara, dinamika ekonomi kreatif ini terbukti memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi warga setempat. Perekonomian lokal mengalami peningkatan aktivitas perdagangan selama festival berlangsung; pengunjung dari berbagai daerah turut meramaikan transaksi jual beli produk lokal tersebut.
Tradisi Rebo Pungkasan membuktikan bahwa nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan kegiatan sosial dapat berpadu secara harmonis; keberadaannya fungsi sebagai media untuk mempererat ikatan silaturahmi antarwarga. Gotong royong yang terlihat selama persiapan hingga pelaksanaan acara menjadi cerminan dari semangat persatuan yang masih terjaga dengan baik; generasi muda juga dilibatkan secara aktif agar nilai-nilai kebudayaan ini tidak punah digerus zaman.
Penyelenggaraan festival adat di tepi sungai ini menyajikan tontonan budaya yang edukatif sekaligus menghibur; pelestarian tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga identitas kebudayaan daerah. Melalui perpaduan antara doa, pembagian pangan, pertunjukan seni, dan kegiatan ekonomi rakyat, Rebo Pungkasan terus bertahan sebagai warisan takbenda yang kaya akan nilai kearifan lokal.
Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.