YOGYAKARTA - Pergelaran seni pertunjukan tradisional kethoprak Mataram tidak pernah terlepas dari kemegahan serta ragam kostum yang dikenakan para pemainnya. Di balik keindahan penampilan para aktor dan aktris di atas panggung, terdapat peran krusial seorang penata busana yang merancang setiap detail pakaian. Salah satu sosok yang secara konsisten mendedikasikan hidupnya pada bidang ini adalah Lilik Agung, S.Sn., atau yang akrab disapa Mas Lilik.

Selain sering terlibat langsung sebagai pemeran tokoh di atas panggung, pria berpenampilan tenang ini aktif bekerja di belakang layar. Pengalamannya merentang luas di berbagai ajang pertunjukan; mulai dari panggung kesenian rakyat, festival tingkat daerah, hingga produksi kethoprak audio visual untuk penyiaran televisi. Kemampuannya merias dan menata kostum bukan didapat secara instan, melainkan hasil dari proses belajar serta pemahaman mendalam yang panjang.

Menurut Lilik, merancang busana pertunjukan tradisional bukanlah tugas yang mudah. Pekerjaan ini tidak sekadar memilih kain dan memakaikannya kepada pemain; melainkan menuntut pemahaman atas karakter tokoh, latar belakang sejarah, status sosial, hingga nuansa cerita yang dibawakan. Tantangan tersebut kian terasa ketika lakon yang diangkat bersumber dari karya literatur legendaris yang memiliki basis pembaca kuat.

Sebagai contoh, saat dipercaya menata kostum untuk lakon serial Nagasasra Sabuk Inten, ia wajib membaca buku fisiknya secara cermat. Hal itu dilakukan agar visualisasi busana yang dihadirkan di atas panggung tidak menyimpang dari persepsi publik dan kaidah sejarah. Konsultasi intensif bersama penulis naskah serta sutradara pun menjadi tahapan wajib; sebab standar penataan busana pada pergelaran besar acap kali menjadi acuan utama bagi kelompok kesenian kethoprak lainnya.

Kedisiplinan serta kegigihan belajar lulusan S-1 Jurusan Pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini pun membuahkan hasil yang manis. Selain kepercayaan yang terus mengalir dari berbagai produksi pertunjukan, ia kerap meraih penghargaan sebagai penata busana terbaik dalam ajang Festival Kethoprak, baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi.

Meski telah mengukir deretan prestasi, Lilik Agung tetap memilih untuk bersikap rendah hati. Baginya, deretan penghargaan yang diraih bukanlah tujuan akhir dari proses berkarya; melainkan menjadi pemantik semangat untuk terus mendalami seni tata busana dan tata rias tradisional. Ia berharap dedikasi dan karya-karyanya dapat memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian seni kethoprak Mataram, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.


Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani