YOGYAKARTA - Tren olahraga seperti gym, padel, lari, hingga pilates semakin dekat dengan gaya hidup generasi Z. Namun, keinginan mengikuti tren tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang bijak agar upaya menjaga kebugaran tidak justru mengganggu tabungan dan kebutuhan sehari-hari.

Sebagian anak muda mengalokasikan cukup banyak pendapatan untuk hobi olahraga. Pengeluaran tersebut bahkan dapat mengambil porsi tabungan jika tidak direncanakan dengan baik. Kondisi ini menunjukkan pentingnya menjaga keseimbangan antara keinginan hidup sehat dan kemampuan finansial.

Fenomena ini tidak terlepas dari media sosial yang membuat berbagai aktivitas olahraga semakin populer. Unggahan teman saat berlari, bermain padel, atau berlatih di gym dapat mendorong anak muda untuk mencoba kegiatan serupa. Keinginan tersebut bisa menjadi motivasi untuk hidup lebih aktif, tetapi juga berisiko memicu fear of missing out(FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari tren yang sedang ramai.

Pengeluaran olahraga tidak hanya berasal dari biaya masuk atau keanggotaan gym. Pembelian sepatu khusus, pakaian olahraga, aksesori, biaya kelas, hingga pendaftaran acara lari juga dapat menambah pengeluaran bulanan. Jika pembelian dilakukan hanya demi mengikuti tren, kondisi keuangan bisa terganggu meskipun barang yang dibeli belum tentu dibutuhkan.

Padahal, menjaga kebugaran tidak harus selalu dilakukan dengan olahraga berbiaya tinggi. Berjalan kaki, jogging, bersepeda, dan latihan mandiri di rumah dapat menjadi pilihan untuk tetap aktif. Jenis olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi tubuh, serta kemampuan finansial masing-masing.

Generasi Z dapat mulai mengatur anggaran khusus untuk olahraga, memanfaatkan perlengkapan yang masih layak, dan mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli barang baru atau mendaftar kelas. Kebutuhan pokok dan tabungan juga perlu tetap menjadi prioritas.

Pada akhirnya, mengikuti tren olahraga bukanlah hal yang keliru selama dilakukan secara bijak. Kesehatan fisik dan keuangan sama-sama perlu dijaga agar gaya hidup aktif dapat berlangsung secara konsisten tanpa menimbulkan beban finansial.

PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI