SLEMAN - Gema tabuhan rebana yang berpadu dengan ketukan ritmis memecah suasana di kawasan Tiyasan, Condongcatur, Kabupaten Sleman. Di atas panggung festival budaya, para penari bergerak dengan enerjik menyelaraskan ayunan langkah, syair religi, dan lantunan lagu kebangsaan. Penampilan memukau ini dibawakan oleh kelompok seni tradisional setempat, sebuah komunitas yang konsisten menjaga warisan leluhur yang kini kian langka.
Kesenian Kasidah Badui merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan bernuansa Islam yang terbilang unik di wilayah Sleman. Kesenian ini tidak hanya mengandalkan harmonisasi vokal dan tabuhan alat musik perkusi, melainkan juga menyajikan tarian dengan koreografi khas. Kehadiran kombinasi antara tari, musik, dan syiar agama membuat pertunjukan tersebut memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dari kesenian kasidah pada umumnya.
Dalam ajang festival yang diselenggarakan oleh pihak korporasi bersama pemerintah daerah, kelompok seni tersebut tampil dengan formasi lengkap yang melibatkan puluhan penari, musisi, serta vokalis. Mereka membawakan berbagai repertoar lagu, termasuk karya-karya bernuansa nasionalisme yang digubah dalam nuansa musik tradisional khas setempat.
Panggung perhelatan tersebut menjadi momentum berharga bagi para seniman lokal. Kesempatan tampil di festival merupakan peluang besar untuk memperkenalkan kembali kesenian langka kepada khalayak luas. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan sekadar hiburan visual dan auditif, melainkan sebuah identitas budaya bernilai historis yang perlu terus dirawat agar tidak tergerus zaman.
Selain berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, pergelaran seni tradisional ini terbukti ampuh mempererat rasa kebersamaan atau kohesi sosial antarwarga. Proses persiapan yang intensif serta kerja sama dalam menyukseskan pertunjukan menciptakan ruang perjumpaan yang menghidupkan kembali semangat gotong royong. Seniman lokal, pelaku usaha kecil, hingga masyarakat umum saling bahu-membahu meramaikan kegiatan.
Tersedianya panggung ekspresi juga memegang peranan krusial dalam proses regenerasi pelaku seni. Keterlibatan generasi muda dalam berbagai kelompok seni keagamaan menjadi angin segar bagi keberlangsungan tradisi lokal. Kehadiran anak-anak muda di samping para penggiat senior memastikan bahwa tongkat estafet kebudayaan tetap berjalan. Melalui komitmen bersama dan ruang pertunjukan yang konsisten, detak nadi kesenian tradisional di Tiyasan akan terus berdenyut menembus lintas generasi.
Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.