YOGYAKARTA - Kehidupan yang semakin ramai dan dipenuhi berbagai kesibukan, tradisi budaya Jawa mengajarkan pentingnya mengambil waktu untuk diam dan merenungkan perjalanan hidup. Nilai tersebut tercermin dalam Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng, sebuah tradisi yang dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Jawa dengan berjalan dalam keheningan.
Tradisi ini menjadi bagian dari peringatan 1 Sura dalam kalender Jawa. Para peserta, yang terdiri atas abdi dalem dan masyarakat, berjalan mengelilingi kawasan benteng keraton tanpa berbicara. Keheningan menjadi unsur utama dalam prosesi tersebut karena setiap peserta diajak memusatkan perhatian pada doa dan perenungan diri.
Tapa bisu bukan sekadar kegiatan berjalan tanpa mengeluarkan suara. Tradisi ini memiliki makna sebagai upaya mengendalikan diri, mengevaluasi perbuatan yang telah dilakukan, serta menata niat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dalam suasana hening, seseorang diharapkan dapat memahami kembali sikap dan tindakannya selama setahun terakhir.
Pelaksanaan Mubeng Beteng juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang diwariskan antargenerasi. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat mempertahankan nilai-nilai leluhur melalui kegiatan yang masih dijalankan dalam kehidupan masa kini.
Dalam kehidupan modern, makna tapa bisu dapat menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dari rutinitas. Kesibukan sehari-hari terkadang membuat seseorang kurang memperhatikan perilaku, hubungan dengan orang lain, maupun tujuan hidupnya.
Melalui tradisi ini, masyarakat diajak memahami bahwa pergantian tahun tidak hanya berkaitan dengan perubahan kalender, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri. Sikap lebih sabar, bijaksana, dan menghargai sesama menjadi nilai yang dapat dibawa setelah prosesi berakhir.
Lampah Budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya terletak pada bentuk ritualnya, tetapi juga pada pesan kehidupan yang terkandung di dalamnya. Dalam langkah-langkah yang sunyi, tersimpan ajakan untuk mengenali diri, menjaga perilaku, dan menyambut masa depan dengan kesadaran yang lebih baik.
Penulis Artikel: Kirani Saragih

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.