YOGYAKARTA - Kementerian Kebudayaan berkomitmen menghadirkan ruang perjumpaan bagi para pelaku musik tradisi dari berbagai penjuru daerah agar terus berkembang, dikenal luas, serta menjadi sumber pengetahuan berharga. Komitmen tersebut diwujudkan melalui gelaran Festival Musik Tradisi Indonesia yang diselenggarakan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Perhelatan budaya ini tidak sekadar menjadi ajang perayaan irama lokal, melainkan juga wadah strategis untuk memperkuat ekosistem kebudayaan Nusantara secara berkelanjutan.

Pemerintah menegaskan bahwa musik tradisi tidak boleh berhenti sebagai sekadar warisan masa lalu yang statis; seni suara lokal harus terus dihidupkan, diapresiasi, dan diwariskan kepada generasi muda. Melalui pemanfaatan hasil kelola dana abadi kebudayaan, ajang ini menjadi media interaksi yang memungkinkan para praktisi seni saling bertukar pengetahuan, memperluas jaringan kerja sama, serta memperkenal ekspresi kultural kepada publik yang lebih luas.

Penyelenggaraan festival di wilayah Sikka mengusung tajuk lokal Gong Ha Lin Dopo, Waning Ha Hagong Nawang. Slogan tersebut mengandung makna mendalam bahwa setiap tabuhan dan alunan nada bukan sekadar fenomena bunyi, melainkan gaung spiritual, historis, dan kultural yang menyatu dengan kehidupan masyarakat setempat. Acara ini diselenggarakan berkat kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan, Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia wilayah Nusa Tenggara Timur, serta Pemerintah Kabupaten Sikka.

Selain fokus pada upaya pelestarian kebudayaan, perhelatan ini memegang peranan penting sebagai sarana dukungan psikososial bagi warga lokal yang sedang berada dalam masa pemulihan pascabencana. Pemerintah daerah setempat menyambut positif kehadiran gelaran seni ini karena mampu memberikan hiburan yang menenangkan sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan warga. Seni musik terbukti menjadi instrumen terapeutik yang ampuh dalam merekatkan kembali ikatan sosial masyarakat.

Panggung pertunjukan diramaikan oleh berbagai kelompok seni lokal yang menampilkan dinamika musik tradisi secara memukau. Beragam pengisi acara memadukan alunan musik tradisional dengan sentuhan modern, sementara beberapa sanggar budaya menampilkan bentuk-bentuk ekspresi murni yang kaya akan nilai leluhur. Penampilan dari berbagai sanggar seni, grup musik daerah, hingga pertunjukan orkestra lokal berhasil menciptakan suasana yang meriah sekaligus sarat pesan moral.

Melalui festival ini, seluruh lapisan masyarakat beserta komunitas kebudayaan diajak untuk terus berkolaborasi merawat keberagaman. Kerja sama yang erat antara pemerintah pusat, daerah, serta para pelaku seni diyakini dapat memastikan bahwasanya musik tradisi tetap beresonansi kuat dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menjaga jati diri bangsa di tengah arus modernisasi.

Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani