YOGYAKARTA - Di balik gemuruh kehidupan modern yang makin serba cepat, alunan irama kayu yang saling beradu menghadirkan nostalgia kehangatan pedesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bunyi bertalu-talu yang ritmis itu bukan berasal dari instrumen musik modern, melainkan lahir dari gesekan dan benturan alu tongkat kayu penumbuk pada lesung, wadah kayu besar berbentuk perahu yang dahulunya berfungsi menumbuk padi hasil panen. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan Gejog Lesung, sebuah kesenian rakyat yang mengubah alat pertanian sehari-hari menjadi orkestra tradisional penuh makna.
Secara historis, Gejog Lesung tumbuh subur dari tradisi agraris sebagai wujud ekspresi kebahagiaan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas melimpahnya hasil bumi. Dahulu, seusai memisahkan bulir padi dari tangkainya, para petani berkumpul mengelilingi lesung. Rasa lelah bekerja seharian seketika memudar saat tangan-tangan terampil mereka mulai memukulkan alu pada bagian rongga maupun pinggiran lesung dengan pola yang saling mengisi. Dari sinilah lahir nada-nada ritmis nan dinamis, menciptakan harmoni yang sahut-menyahut dan mengundang gelak tawa kebersamaan.
Pertunjukan tradisional ini biasanya dimainkan secara berregu oleh lima hingga delapan orang penabuh. Nada ketukan dasar yang dihasilkan lesung terbagi menjadi ritme rendah yang mantap serta benturan tinggi yang nyaring. Untuk memperkaya suasana, permainan instrumen kayu ini kerap dipadukan dengan lantunan tembang-tembang Jawa bertema alam dan kehidupan desa, seperti Caping Gunung atau Ayam Ngelik. Tidak jarang, lagu-lagu rakyat tersebut dinyanyikan bersama oleh para seniman senior sambil menggerakkan badan secara luwes, mencerminkan kerukunan dan semangat gotong royong warga pedesaan.
Nilai filosofis Gejog Lesung terletak pada keselarasan, kerja sama, dan komunikasi tanpa kata; setiap penabuh harus menahan ego masing-masing agar pukulan alu tidak saling berbenturan kacau, melainkan membentuk satu kesatuan irama yang indah. Mitos tua setempat juga mengaitkan suara lantang lesung sebagai penolak bala atau sarana mengusir kegelapan saat fenomena gerhana terjadi pada masa lampau.
Meski teknologi modern telah menggantikan peran lesung dalam proses pengolahan hasil tani, kesenian ini tidak benar-benar lenyap. Di berbagai desa budaya dan ruang pertunjukan seni tradisional Yogyakarta, Gejog Lesung terus dirawat serta ditransformasikan menjadi seni pertunjukan yang memikat. Upaya regenerasi pun gencar dilakukan dengan melibatkan generasi muda agar warisan leluhur ini tetap bernapas. Melalui ketukan demi ketukan kayu yang tetap bergetar hingga kini, Gejog Lesung bukan sekadar pengingat masa lalu, melainkan simbol kehangatan jiwa masyarakat agraris yang senantiasa merayakan kebersamaan dan rasa syukur.
Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.