YOGYAKARTA - Perayaan tradisi budaya di kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat selalu menghadirkan berbagai daya tarik yang melekat dalam kehidupan masyarakat setempat; salah satunya adalah keberadaan kuliner tradisional yang hanya muncul pada momen-momen tertentu saja. Salah satu hidangan khas yang paling dinantikan setiap tahunnya adalah sego gurih. Kuliner ini biasanya dijajakan oleh para pedagang musiman di sekitar kompleks Masjid Gedhe Kauman, Kota Yogyakarta, selama rangkaian acara Hajad Dalem Sekaten berlangsung menjelang prosesi Garebeg Maulud.

Dari segi tampilan dan rasa, sego gurih memiliki kemiripan dengan nasi uduk yang umum ditemui di berbagai daerah; namun, racikan bumbu dan pelengkapnya memiliki ciri khas tersendiri yang autentik. Dalam satu porsi penyajian, hidangan ini dilengkapi dengan taburan rebon, bumbu pecel yang dicampur koya, kedelai hitam dan putih, tempe kering, pilihan telur dadar atau suwiran ayam, sambal krecek, serta aneka lalapan segar. Perpaduan berbagai komponen tersebut menghasilkan cita rasa yang gurih, kaya rempah, serta menggugah selera bagi siapa saja yang menikmatinya.

Selain kelezatan rasanya, keberadaan sego gurih di tengah tradisi Sekaten juga menyimpan nilai historis dan kultural yang kuat bagi masyarakat Jawa. Sebagian warga lokal meyakini bahwa menyantap hidangan ini merupakan bagian dari tradisi ngalap berkah atau memohon keberkahan menjelang hari besar keagamaan. Bahkan, terdapat mitos turun-temurun di kalangan masyarakat terdahulu yang menyebutkan bahwa menyantap sego gurih konon dapat membuat seseorang menjadi awet muda. Kepercayaan lokal seperti ini menambah daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang datang ke lokasi perayaan.

Bagi masyarakat asli Yogyakarta, mencari sego gurih di kompleks Masjid Gedhe Kauman sudah menjadi agenda rutin yang tidak boleh dilewatkan setiap kali musim Sekaten tiba. Pengalaman kuliner ini menghadirkan suasana nostalgia yang kuat; sementara bagi para pelancong dari luar daerah, hidangan ini sering kali menjadi objek rasa penasaran untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya lokal. Harga yang ditawarkan di lapak-lapak pedagang musiman tersebut pun tergolong sangat terjangkau bagi semua kalangan masyarakat yang ingin mencicipinya secara langsung di lokasi.

 

Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani