YOGYAKARTA - Geplak menjadi salah satu ikon kuliner yang paling memikat perhatian para pelancong. Kudapan manis ini memiliki daya tarik visual yang sangat kuat berkat warnanya yang mencolok, mulai dari merah muda, hijau, kuning, hingga putih bersih. Bentuknya yang bulat tidak beraturan serta teksturnya yang padat menjadikan geplak sebagai simbol manisnya kenangan dari Bumi Projotamansari.
Secara historis, geplak lahir dari kreativitas masyarakat lokal dalam memanfaatkan kekayaan alam sekitar. Kabupaten Bantul pada masa lampau dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kelapa dan gula tebu yang melimpah. Pada era kolonialisme Belanda, ketersediaan bahan baku tersebut mendorong para pembuat makanan tradisional untuk mengolah parutan kelapa dengan campuran gula hingga menghasilkan adapan padat yang awet disimpan. Nama geplak sendiri dipercaya berasal dari teknik pembuatannya, yaitu adonan yang ditepuk-tepuk atau di-geplak menggunakan tangan hingga membentuk gumpalan-gumpalan kecil yang siap disajikan.
Bahan dasar pembuatan geplak sebenarnya tergolong cukup sederhana, yaitu parutan daging kelapa muda, gula pasir atau gula jawa, serta sedikit aroma vanili untuk memperkuat keharuman kuliner ini. Pertama-tama, kelapa diparut memanjang kemudian dimasak bersama lelehan gula dalam wajan besar; proses pengadukan harus dilakukan secara konsisten agar adonan tidak gosong di bagian bawah. Setelah adonan mengental dan mengkristal, pewarna makanan alami ditambahkan untuk memberikan nuansa warna-warni yang cerah. Adonan yang masih hangat tersebut kemudian dicetak secara manual menggunakan jemari tangan dan dibiarkan mendingin hingga mengeras dengan sendirinya.
Saat digigit, geplak menawarkan sensasi rasa manis yang dominan dipadu dengan gurihnya kelapa parut yang kaya akan serat. Tekstur luarnya cenderung agak renyah karena kristalisasi gula; namun, bagian dalamnya tetap terasa lembut serta berserat halus. Bagi pencinta makanan manis, menikmati geplak bersama secangkir teh poci hangat tanpa gula atau kopi hitam panas merupakan kombinasi yang sangat sempurna. Rasa pahit netral dari minuman akan mengimbangi rasa manis pekat dari geplak, sehingga menciptakan harmoni cita rasa tradisional yang begitu memanjakan lidah di sore hari.
Perkembangan zaman juga membawa inovasi baru dalam industri rumahan olahan geplak di kawasan Bantul dan sepanjang jalur menuju Parangtritis. Produsen geplak kini tidak hanya mempertahankan varian rasa original gula jawa atau vanili saja, melainkan juga menghadirkan inovasi rasa modern seperti durian, nangka, cokelat, stroberi, hingga jahe. Pengemasan kuliner ini pun tetap dipertahankan secara tradisional dengan menggunakan besek, yaitu wadah anyaman bambu berbentuk kotak yang dilapisi kertas bersih. Penggunaan besek tidak hanya memberikan kesan autentik dan ramah lingkungan, tetapi juga menjaga sirkulasi udara agar geplak tidak mudah lembap selama perjalanan.
Menyambangi kawasan pesisir Parangtritis terasa kurang lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh khas yang sarat akan nilai budaya ini. Geplak Bantul bukan sekadar kudapan manis pelipur lapar, melainkan juga simbol kearifan lokal masyarakat dalam mengolah potensi alam Nusantara. Kehadiran warna-warninya yang ceria seolah mencerminkan keramahan warga Yogyakarta dalam menyambut setiap wisatawan yang datang berkunjung.
Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.