SLEMAN - Makanan khas ini berasal dari kawasan Kaliurang, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Popularitas jadah tempe sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu dan menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner bagi pelancong domestik maupun mancanegara.

Secara sederhana, menu ini terdiri dari dua komponen utama, yaitu jadah dan tempe. Jadah merupakan makanan yang terbuat dari olahan beras ketan putih dan parutan kelapa, kemudian ditumbuk sampai halus hingga menghasilkan tekstur yang pulen serta lengket. Sementara itu, pendampingnya adalah tempe bacem yang diolah menggunakan gula jawa, ketumbar, serta berbagai bumbu rempah pilihan. Perpaduan kedua bahan ini menciptakan rasa unik di lidah; gurihnya jadah berpadu sempurna dengan manisnya tempe bacem.

Berdasarkan catatan sejarah lokal, kuliner tradisional ini mulai dikenal luas masyarakat berkat seorang warga setempat bernama Sastrodinomo atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Carik. Pada masa lampau, Mbah Carik mulai menjajakan makanan tersebut di sekitar kawasan Kaliurang. Konon, Sri Sultan Hamengkubuwana IX menyukai cita rasa kudapan ini ketika berkunjung ke wilayah lereng Gunung Merapi. Sejak saat itu, jadah tempe semakin terkenal dan sering disajikan dalam berbagai acara penting maupun dinikmati oleh kalangan keluarga keraton.

Cara menikmati hidangan ini tergolong unik. Penikmat kuliner biasanya menyantap jadah dan tempe secara bersamaan dalam satu gigitan. Beberapa penjual juga menyediakan cabai rawit hijau sebagai pelengkap bagi konsumen yang menyukai sensasi rasa pedas. Selain disantap secara langsung, sebagian pedagang menawarkan variasi penyajian dengan cara membakar jadah terlebih dahulu guna memberikan aroma sedap dari daun pisang serta kelezatan yang lebih gurih.

Kini, sentra penjualan jadah tempe dapat dengan mudah ditemukan di sepanjang jalur wisata Kaliurang. Harganya yang terjangkau serta rasanya yang lezat menjadikan makanan ini pilihan favorit untuk buah tangan. Keberadaan jadah tempe membuktikan bahwa kuliner tradisional Nusantara mampu bertahan di tengah gempuran makanan modern, sekaligus melestarikan warisan budaya lokal di Yogyakarta.


Penulis Artikel: Widya Zahra Saharani