SOLO - Menjelang pernikahan kakak Mangkunegara Kesepuluh, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, dengan KPH FX Adimas Rosdian, sejumlah tradisi Jawa digelar. Salah satunya pemasangan bleketepe atau anyaman daun kelapa. 

Menjelang hajat dalem Dhaup Ageng Gusti Suro dan KPH FX Adimas Rosdian, bleketepe mulai dipasang di Pendopo Ageng Puro Mangkunegaran, Kota Solo, Jawa Tengah. Pemasangan bleketepe yang berupa anyaman daun kelapa tersebut dilakukan abdi dalem Puro Mangkunegaran.

 

Pemasangan bleketepe disaksikan langsung oleh pemimpin Puro Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegoro Kesepuluh. Sejumlah pengunjung juga tampak mengabadikan prosesi tersebut.

 

Pemasangan bleketepe merupakan penanda dimulainya rangkaian hajatan pernikahan adat Jawa. Bleketepe sekaligus simbol harapan akan keselamatan dan kelancaran rangkaian acara pernikahan.

 

Selain bleketepe, para abdi dalem juga memasang tuwuhan atau rangkaian hasil bumi. Tuwuhan menjadi lambang kesuburan, harapan, dan kehidupan baru bagi pasangan pengantin.

 

"Melaksanakan kegiatan bleketepe dilanjutkan dengan tuwuhan dan yang terakhir ada cangkringan. Bleketepe sendiri adalah simbolis perlindungan, makanya diletakkan di bangsal depan itu adalah anyaman daun kelapa. Kemudian tuwuhan dari hasil bumi melambangkan pertumbuhan pengantin serta kesuburan. Terus cangkringan kami laksanakan di area dapur, kami punya pusaka masak," ujar RAyT Ayu Rosetyastuti selaku Juru Bicara Dhaup Ageng.
 

Malam harinya digelar prosesi nyantri yang menandai penerimaan KPH FX Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas oleh keluarga calon mempelai putri. Penyambutan ini bukan hanya tahapan adat, namun juga ruang perjumpaan antara dua keluarga mempelai.

 

Reporter: Rizki Budi Pratama RBTV

Penyunting artikel: Lindah Oktarinaa