GUNUNGKIDUL - Ratusan siswa Sekolah Dasar di Gunung Kidul, mengikuti Festival Permainan Tradisional 2026. Digelar di Lapangan Piyaman, Wonosari, kegiatan ini menjadi ajang kompetisi sekaligus upaya melestarikan permainan tradisional di kalangan generasi muda.

Suasana meriah mewarnai Festival Permainan Tradisional 2026, di Lapangan Piyaman, Wonosari, Gunungkidul. Ratusan siswa sekolah dasar dari berbagai wilayah berlomba menunjukkan ketangkasan dan kekompakan, didukung semangat para guru serta pendamping.

Festival yang digelar untuk pertama kalinya ini, diselenggarakan Kormi Gunung Kidul, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan serta Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga. Sebanyak 56 tim mengikuti tiga cabang permainan, yaitu gobak sodor, balap egrang, dan balap bakiak.

Setiap perlombaan menguji kemampuan yang berbeda. Permainan bakiak membutuhkan kekompakan langkah, balap egrang mengandalkan keseimbangan, sementara gobak sodor menuntut kelincahan dan strategi untuk melewati hadangan lawan. Persaingan berlangsung seru, dengan masing-masing tim berusaha meraih hasil terbaik.

Ketua panitia, Hendra Setiawan, menyebut festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga upaya menumbuhkan kembali minat generasi muda terhadap permainan tradisional.

“Ya memang olahraga tradisional yang paling  umum dilaksanakan ini memang tiga ini, ada egrang, kemudian bakiak, dan gobak sodor. Kami memang memilih Festival Permainan Tradisional ini karena memang, kami ingin menumbuhkan kembali, budaya yang ada di DIY, di Gunungkidul, sehingga sudah banyak kegiatan-kegiatan olahraga seperti sepak bola dan lain sebagainya, tetapi untuk festival permainan tradisional ini untuk usia SD baru digelar hari ini” ujar Hendra Setiawan selaku Ketua Festival Permainan Tradisional 2026.

Melalui festival ini, para siswa diajak mengenal dan melestarikan permainan tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya bangsa. Tak sekadar menghadirkan kegembiraan, permainan ini juga menanamkan nilai kerja sama, sportivitas, kebersamaan, dan gotong royong. Diharapkan, permainan tradisional tetap hidup dan digemari generasi muda di tengah perkembangan zaman.

 

Reporter: Agung, RBTV

Penyunting: Kirani Saragih