SLEMAN - Di antara beragam jajanan modern yang mudah ditemukan saat ini, ada kuliner tradisional dari Sleman yang masih mempertahankan kesederhanaannya. Namanya Jenang Upeh, kudapan berbahan dasar beras yang memiliki ciri khas pada tekstur, cita rasa gurih, serta cara penyajiannya menggunakan pelepah pohon pinang. Jajanan ini menjadi bagian dari kekayaan kuliner lokal yang keberadaannya kini semakin jarang dijumpai.

Jenang Upeh atau Jenang Upih dikenal di wilayah Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Berbeda dari jenang yang identik dengan rasa manis, kudapan ini menawarkan cita rasa gurih dengan tekstur padat sekaligus lembut. Bahan-bahannya terbilang sederhana, seperti olahan beras, santan, dan garam. Namun, keistimewaannya terletak pada perpaduan bahan dan teknik pengolahan yang masih mempertahankan cara tradisional.

Keunikan Jenang Upeh tidak berhenti pada rasanya. Adonan jenang dicetak menggunakan pelepah pohon pinang atau upih, yang sekaligus menjadi pembungkus alami. Penggunaan pelepah tersebut memberikan tampilan berbeda dibandingkan jajanan pasar pada umumnya. Jenang ini juga dikenal menggunakan beras varietas PB 5, sehingga pemilihan bahan baku menjadi salah satu hal penting dalam proses pembuatannya.

Di kawasan Sleman, Jenang Upeh dapat ditemukan di sejumlah pasar tradisional, salah satunya Pasar Ngino di wilayah Margoagung, Seyegan. Kehadirannya memiliki keunikan tersendiri karena penjualannya mengikuti pasaran Jawa. Pada hari pasaran Wage dan Legi, jajanan ini menjadi salah satu pilihan kuliner tradisional yang dapat dicari pengunjung pasar.

Jenang Upeh umumnya dinikmati sebagai kudapan atau menu sarapan. Cita rasanya yang gurih cocok dipadukan dengan tempe maupun tahu bacem. Perpaduan tersebut menghadirkan pengalaman menikmati jajanan tradisional yang sederhana, tetapi memiliki karakter rasa berbeda dari makanan yang banyak dijumpai di pasaran saat ini.

Di balik kesederhanaannya, Jenang Upeh menyimpan tantangan untuk terus bertahan. Ketersediaan beras jenis tertentu dan semakin terbatasnya perajin menjadi persoalan yang memengaruhi keberlangsungan kuliner ini. Ketika bahan baku semakin sulit ditemukan dan jumlah pembuatnya menyusut, keberadaan Jenang Upeh berisiko semakin sulit dijumpai oleh generasi berikutnya.

Padahal, kuliner tradisional tidak hanya berbicara tentang rasa, tetapi juga keterampilan mengolah bahan pangan dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan dari waktu ke waktu. Jenang Upeh memperlihatkan bagaimana bahan sederhana dapat diolah menjadi makanan dengan identitas tersendiri. Penggunaan pelepah pinang sebagai cetakan sekaligus pembungkus juga menjadi ciri yang membedakannya dari jajanan lainnya.

Di tengah perkembangan kuliner yang semakin beragam, keberadaan Jenang Upeh menjadi pengingat bahwa makanan tradisional tetap memiliki tempat dalam kekayaan budaya daerah. Mengenalkannya kembali kepada masyarakat, terutama generasi muda, dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga agar kuliner ini tidak sekadar menjadi cerita dari masa lalu.

Jenang Upeh mungkin tidak semudah jajanan populer lainnya untuk ditemukan setiap hari. Namun, justru keunikan bahan, cara pengolahan, dan keterikatannya dengan tradisi pasar Jawa menjadikan kuliner ini layak dikenal lebih luas. Dari sebuah jajanan sederhana di Sleman, tersimpan cerita tentang cita rasa lokal yang perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI