RBTV JOGJA - Kebiasaan belanja karena mengikuti tren atau tergoda diskon sering membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Untuk mengubah kebiasaan tersebut, gerakan Lyfe With Less mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak dalam mengonsumsi barang dan menerapkan gaya hidup yang lebih sadar.

Lyfe With Less berawal dari akun media sosial milik Cynthia Suci Lestari sekitar 2017-2018. Awalnya, Cynthia hanya ingin membagikan pengalaman pribadinya dalam mengurangi barang dan mengubah kebiasaan konsumsi. Seiring waktu, ruang berbagi tersebut berkembang menjadi gerakan yang mengajak masyarakat mengevaluasi cara mereka berbelanja.

Bijak berkonsumsi bukan berarti seseorang harus berhenti membeli barang baru. Kebutuhan sehari-hari tetap membuat masyarakat perlu berbelanja. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik keputusan membeli, apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya karena sedang tren.

Kebiasaan membeli barang secara impulsif sering muncul ketika seseorang melihat sesuatu yang menarik di media sosial, tergoda harga diskon, atau ingin mengikuti gaya orang lain. Padahal, barang yang dibeli belum tentu digunakan dalam jangka panjang.

Melalui gerakan ini, masyarakat diajak untuk mulai membuat keputusan belanja dengan lebih cermat. Salah satunya dengan menggunakan barang yang sudah dimiliki sampai benar-benar habis atau tidak lagi berfungsi sebelum membeli yang baru.

Selain itu, barang yang sudah tidak digunakan juga tidak harus langsung dibuang. Barang tersebut dapat diberikan kepada orang lain agar tetap memiliki manfaat. Pilihan lain seperti membeli barang bekas layak pakai, menyewa, atau meminjam juga bisa dipertimbangkan sesuai kebutuhan.

Cynthia juga mengajak masyarakat memahami bahwa gaya hidup bijak berkonsumsi tidak harus dilakukan secara ekstrem. Setiap orang memiliki kebutuhan dan kondisi keuangan yang berbeda. Karena itu, perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mengurangi pembelian yang tidak perlu dan merawat barang yang sudah dimiliki.

Pada akhirnya, Lyfe With Less mengingatkan bahwa memiliki kemampuan untuk membeli sesuatu bukan berarti harus selalu memilikinya. Dengan lebih memahami kebutuhan dan mempertimbangkan dampak dari setiap pembelian, masyarakat dapat membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI