RBTV JOGJA - Di tengah kesibukan kuliah, pekerjaan, dan aktivitas di media sosial, memiliki waktu untuk diri sendiri menjadi hal yang semakin berarti bagi sebagian anak muda. Mulai dari menonton film, mendengarkan musik, membaca buku, hingga sekadar berjalan-jalan sendirian, berbagai aktivitas tersebut bisa menjadi cara untuk menikmati waktu tanpa harus selalu ditemani orang lain.

Kebiasaan ini sering disebut sebagai me time. Bagi sebagian Gen Z, waktu sendiri menjadi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari rutinitas dan melakukan hal-hal yang disukai. Tidak selalu harus pergi ke tempat tertentu, menikmati waktu di kamar sambil mendengarkan lagu pun bisa menjadi pilihan.

Namun, menikmati kesendirian bukan berarti seseorang tidak membutuhkan teman atau memilih untuk menjauh dari lingkungan sosial. Ada perbedaan antara solitude, yaitu kondisi ketika seseorang memilih menghabiskan waktu sendiri, dengan loneliness atau kesepian, yaitu perasaan tidak memiliki hubungan atau kedekatan dengan orang lain.

Perbedaan tersebut menjadi perhatian dalam penelitian berjudul Looking Beyond Time Alone: An Examination of Solitary Activities in Emerging Adulthood yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Personality, Volume 93, Edisi 1, tahun 2025.

Penelitian yang melibatkan 1.798 mahasiswa berusia 18 hingga 25 tahun ini menemukan bahwa aktivitas yang dilakukan saat sendirian memiliki hubungan berbeda dengan kondisi psikologis seseorang.

Anak muda yang mengisi waktu sendiri dengan kegiatan rekreasi cenderung menunjukkan tekanan psikologis yang lebih rendah dan kepuasan lebih tinggi terhadap waktu yang mereka habiskan sendiri. Sebaliknya, mereka yang menghabiskan waktu sendirian dengan terus-menerus berpikir justru cenderung mengalami kesepian dan tekanan psikologis lebih tinggi.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas aktivitas saat me time juga perlu diperhatikan. Menghabiskan waktu sendiri dengan melakukan kegiatan yang disukai dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Sementara itu, terlalu larut dalam pikiran tanpa melakukan aktivitas yang membantu diri merasa lebih baik bisa memberikan pengalaman berbeda.

Di tengah kehidupan yang semakin terhubung melalui media sosial, waktu sendiri juga dapat menjadi kesempatan untuk mengurangi sejenak paparan berbagai aktivitas orang lain. Melihat pencapaian, kesibukan, hingga kehidupan orang lain di media sosial terkadang membuat seseorang merasa perlu terus mengikuti banyak hal.

Meski begitu, me time bukan berarti harus menghindari semua interaksi sosial. Setiap orang tetap membutuhkan hubungan dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya. Waktu sendiri dapat dinikmati sebagai bagian dari keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kehidupan sosial.

Pada akhirnya, menikmati waktu sendiri bukan tentang seberapa lama seseorang menjauh dari keramaian, tetapi bagaimana ia menggunakan waktu tersebut. Selama dilakukan secara sadar dan memberikan pengalaman positif, me time bisa menjadi salah satu cara untuk mengenali kebutuhan diri di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.

PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI