RBTV JOGJA - Membeli barang baru karena sedang viral di media sosial sudah menjadi hal yang mudah dilakukan. Mulai dari pakaian, produk kecantikan, hingga perlengkapan sehari-hari, berbagai barang bisa menarik perhatian hanya karena sering muncul di linimasa. Namun, di tengah kebiasaan tersebut, muncul tren yang justru mengajak anak muda untuk mengurangi belanja dan lebih memanfaatkan barang yang sudah dimiliki.
Tren ini dikenal dengan istilah underconsumption core. Konsepnya cukup sederhana, yaitu menggunakan barang sampai benar-benar habis atau tidak layak pakai, membeli sesuatu sesuai kebutuhan, serta tidak mudah tergoda mengikuti tren konsumsi yang sedang ramai.
Misalnya, menggunakan pakaian yang sudah ada daripada terus membeli model terbaru, menghabiskan produk perawatan sebelum membeli produk lain, hingga memanfaatkan barang lama agar tetap berguna. Kebiasaan ini mengajak seseorang untuk lebih memikirkan manfaat barang sebelum memutuskan membeli sesuatu.
Munculnya tren tersebut menjadi bagian dari perubahan cara pandang terhadap kebiasaan konsumsi, khususnya di kalangan generasi muda. Belanja tidak lagi selalu dipandang sebagai cara mengikuti tren atau menunjukkan gaya hidup, tetapi juga menjadi keputusan yang perlu dipertimbangkan.
Fenomena ini dibahas dalam penelitian berjudul Withdrawal from Consumption: Generation Z's New Consumption Ethics, Its Causes, and Economic Implications yang ditulis oleh Ahmet Kasap, Bülent Şen, dan Serdar Budak. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Business & Management Studies: An International Journal, Volume 14 Nomor 2, tahun 2026.
Penelitian ini membahas perubahan etika konsumsi Gen Z, termasuk hubungan antara kebiasaan mengurangi konsumsi dengan ketimpangan pendapatan, kekhawatiran terhadap perubahan iklim, kelelahan digital, serta pembentukan identitas diri.
Para penulis menjelaskan bahwa keinginan untuk mengurangi konsumsi tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan ekonomi. Sikap tersebut juga dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan pilihan gaya hidup yang mencerminkan nilai-nilai pribadi.
Di sisi lain, media sosial dan layanan belanja online membuat berbagai produk semakin mudah ditemukan. Konten rekomendasi, promosi, hingga tren barang viral dapat mendorong seseorang untuk membeli sesuatu meskipun belum tentu membutuhkannya.
Karena itu, underconsumption core mengajak anak muda untuk lebih bijak menghadapi kebiasaan belanja. Sebelum membeli barang baru, seseorang dapat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya menarik karena sedang populer.
Kebiasaan ini juga dapat membantu seseorang lebih memperhatikan pengeluaran. Dengan mengurangi pembelian yang tidak diperlukan, uang dapat dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Meski begitu, hidup sederhana bukan berarti harus berhenti membeli barang, melainkan lebih selektif dalam menentukan prioritas.
Pada akhirnya, underconsumption core mengingatkan bahwa memiliki banyak barang bukan satu-satunya ukuran gaya hidup. Menggunakan apa yang sudah dimiliki, membeli sesuai kebutuhan, dan tidak mudah terbawa tren dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
PENULIS ARTIKEL: DYNA MULIA SAFITRI

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.