Yogyakarta - Di tengah perubahan zaman, masyarakat masih mempertahankan tradisi Becekan sebagai bagian dari kehidupan budaya mereka. Tradisi ini tidak sekadar menjadi kegiatan adat, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga sumber air yang menopang kebutuhan sehari-hari.
Tradisi Becekan telah berlangsung sejak sebelum 1980-an. Pelaksanaannya dilandasi rasa syukur atas keberadaan sumber air yang tetap mengalir sepanjang musim. Bagi masyarakat setempat, air memiliki arti penting karena menjadi kebutuhan utama bagi kehidupan rumah tangga dan lingkungan sekitar.
Perayaan Becekan dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan, mulai dari penyembelihan kambing, memasak hidangan becek, kenduri, tahlilan, hingga pertunjukan seni tradisional. Rangkaian tersebut memperlihatkan hubungan antara nilai spiritual, kebersamaan, dan pelestarian budaya yang masih dijaga masyarakat.
Salah satu keunikan tradisi ini terletak pada proses pengolahan hidangan becek yang dilakukan oleh kaum pria. Kambing yang digunakan juga harus berasal dari jenis kambing Jawa. Selain itu, pelaksanaannya mengikuti ketentuan adat, termasuk pemilihan Selasa Kliwon serta penyediaan perlengkapan seperti bunga setaman, tumpeng, dan ingkung.
Nama Becekan sendiri berkaitan dengan harapan agar kawasan tersebut senantiasa memiliki air. Makna ini memperlihatkan bagaimana pengalaman masyarakat dalam menghadapi kesulitan memperoleh air pada masa lalu membentuk tradisi yang diwariskan hingga sekarang.
Pelestarian Becekan juga dilakukan dengan menghadirkan pertunjukan kesenian, seperti ketoprak. Hiburan tersebut menjadi cara untuk menarik perhatian generasi muda sekaligus memberikan ruang bagi kesenian tradisional agar tetap dikenal masyarakat.
Keberadaan tradisi Becekan menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui kegiatan adat yang diwariskan lintas generasi, masyarakat terus menjaga nilai kebersamaan sekaligus mengingat pentingnya sumber air bagi keberlangsungan hidup.
Penulis Artikel: Kirani Saragih

Komentar Pembaca
0 komentar · 0 balasan
Sampaikan pendapat dengan sopan dan sesuai fakta. Komentar tampil langsung dan dapat dimoderasi redaksi.
Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah pembaca pertama yang berkomentar.
Login dengan Google untuk mengirim komentar.
Login sebagai
Laporkan komentar
Pilih alasan yang paling sesuai agar redaksi dapat meninjau laporan Anda.